KPAI : Perdagangan Orang sebagai Ekses Perkembangan Dunia Pariwisata

KPAI menyebut, para pelaku perdagangan orang umumnya adalah individu yang memiliki tingkat kesabaran tinggi. Tak jarang para pelaku perdagangan manusia mau menunggu berbulan-bulan hingga sukses melaksanakan niat jahatnya.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 09 Juli 2019  |  20:22 WIB
KPAI : Perdagangan Orang sebagai Ekses Perkembangan Dunia Pariwisata
Ilustrasi - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Praktik perdagangan orang (human trafficking) yang marak terjadi disebut merupakan ekses dari perkembangan dunia pariwisata di Indonesia.

Pendapat mengenai hubungan perkembangan pariwisata dan perdagangan orang itu disampaikan Wakil Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) Keri Lestari. Menurutnya, mayoritas korban perdagangan orang adalah individu yang lemah atau vulnerable.

“Trafficking terjadi jika ada pemindahan orang dengan ancaman. Makanya orang yang jadi korban ini adalah mereka yang vulnerable, karena bisa diancam,” ujar Keri di Kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jakarta, Selasa (9/7/2019).

Menurut Keri, orang akan cenderung rentan menjadi korban perdagangan manusia jika terjerat kemiskinan dan sulit mendapat pekerjaan. Karena itu, mereka mudah diajak untuk pergi ke luar negeri dengan iming-iming mendapat pekerjaan dan pendapatan cukup.

Pendapat Keri mengenai hubungan perdagangan orang dengan perkembangan industri pariwisata diamini Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty. Dia menyebut ada bulan-bulan tertentu di mana praktik perdagangan orang tinggi di Indonesia karena diiringi dengan masif ya jumlah wisatawan asing yang datang.

“Indonesia jadi sumber tempat transit untuk human trafficking. Ada bulan-bulan tertentu kegiatan ini tinggi karena puncak pariwisata di Indonesia dan beberapa daerah menjadi sumbernya seperti Batam, DKI Jakarta, Bali,” ujar Sitti.

KPAI menyebut, para pelaku perdagangan orang umumnya adalah individu yang memiliki tingkat kesabaran tinggi. Tak jarang para pelaku perdagangan manusia mau menunggu berbulan-bulan hingga sukses melaksanakan niat jahatnya.

Dia bercerita, ada pelaku perdagangan manusia yang rela menunggu hingga calon korbannya percaya selama 6 bulan. Selama masa penantian, pelaku memperlakukan calon korban dengan baik hingga mendapat kepercayaan dari target.

“Semua ini dilakukan orang dengan sangat sabar sampai kita tak percaya bahwa kita menjadi target kejahatan selanjutnya,” ujarnya.

Hingga kini, pemerintah belum memiliki data mengenai berapa jumlah orang yang menjadi korban perdagangan manusia di Indonesia. Data rigid mengenai hubungan antara perkembangan pariwisata dengan praktik perdagangan orang juga belum tersedia.

Akan tetapi, menurut data International Organization for Migration (IOM), ada 8.876 orang yang menjadi korban perdagangan korban di Indonesia selama 2015 hingga 2017.

Kemudian, menurut perkiraan United Nations Children's Fund (Unicef) terdapat 100.000 perempuan dan anak di Indonesia yang diperdagangkan setiap tahun untuk eksploitasi seksual di dalam dan luar negeri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kpai, perdagangan orang

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top