Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jepang Mulai Perburuan Paus secara Komersial

Kementerian Perikanan Jepang menetapkan kuota untuk perburuan komersial paus tahun ini sebanyak 227 paus yang terdiri atas 52 paus jenis minke, 150 paus bryde, dan 25 paus sei.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 01 Juli 2019  |  12:41 WIB
Jepang Mulai Perburuan Paus secara Komersial
Kapal nelayan yang akan berburu paus meninggalkan sebuah pelabuhan di Kushiro, Hokkaido, Jepang, Senin (1/7/2019). - Kyodo via Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA--Lima kapal penangkap ikan paus Jepang berlayar untuk perburuan paus komersial pertama negara itu dalam beberapa dekade pada Senin (1/7/2019).

Langkah ini menimbulkan kecaman global dan kekhawatiran akan nasib paus.

Kementerian Perikanan Jepang menetapkan kuota untuk perburuan komersial paus tahun ini sebanyak 227 paus yang terdiri atas 52 paus jenis minke, 150 paus bryde, dan 25 paus sei.

Menurut Daftar Merah Spesies Terancam Punah IUCN, paus minke dan bryde tidak terancam punah. Paus Sei diklasifikasikan sebagai terancam punah tetapi jumlahnya meningkat.

"Dimulainya kembali perburuan paus komersial telah menjadi keinginan yang kuat untuk pemburu paus di seluruh negeri," kata Direktur Jenderal Perikanan Jepang Shigeto Hase pada upacara pelepasan kapal penangkap paus di Kushiro, dilansir dari BBC, Senin (1/7/2019).

Dia mengatakan dimulainya kembali perburuan paus akan memastikan budaya dan cara hidup yang sudah ada dilanjutkan kepada generasi penerus.

Berburu dan makan daging paus dianggap sebagai budaya Jepang. Langkah ini pun disambut positif oleh para pemburu paus.

"Hati saya dipenuhi dengan kebahagiaan dan saya sangat tersentuh. Orang-orang telah berburu paus selama lebih dari 400 tahun di kota asalku," kata Yoshifumi Kai, kepala Asosiasi Penangkapan Ikan Paus Tipe Kecil Jepang.

Sementara itu, kelompok-kelompok konservasi, seperti Greenpeace dan Sea Shepherd tetap kritis terhadap dimulainya kembali perburuan paus di Jepang tetapi mengatakan tidak ada rencana konkret untuk bertindak terhadap negara itu.

"Jepang tidak sejalan dengan komunitas internasional", ujar Sam Annesley, Direktur Eksekutif Greenpeace Jepang, dalam sebuah pernyataan.

Adapun perburuan paus komersial Jepang terakhir dilakukan pada 1986. Namun mereka memulai kembali perburuan untuk tujuan penelitian ilmiah.

Sekarang Jepang telah keluar dari Komisi Penangkapan Ikan Paus Internasional (IWC) sehingga Jepang tak lagi harus tunduk pada kesepakatan yang dibentuk IWC. Negara-negara anggota IWC sepakat untuk moratorium perburuan ikan paus agar populasi paus dapat pulih.

Negara-negara perburuan paus, seperti Jepang, Norwegia, dan Islandia mengasumsikan moratorium akan bersifat sementara sampai semua orang dapat menyetujui kuota berkelanjutan.

Sejak 1987, Jepang telah membunuh antara 200 dan 1.200 paus setiap tahun di bawah pengecualian larangan tersebut yang memungkinkan untuk penelitian ilmiah.

Para kritikus mengatakan penelitian ini hanya kedok sehingga Jepang dapat berburu ikan paus untuk dimakan, karena daging dari ikan paus yang dibunuh untuk penelitian biasanya berakhir untuk dijual.

Pada 2018, Jepang mencoba untuk terakhir kalinya meyakinkan IWC untuk mengizinkan perburuan paus di bawah kuota berkelanjutan, tetapi gagal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

paus
Editor : Sutarno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top