Trump-Xi Sepakat Lanjutkan Perundingan, Ketegangan Sengketa Dagang Mencair

Pemerintah AS dan China akan melanjutkan negosiasi untuk mencapai kesepakatan dagang yang sama-sama menguntungkan.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 29 Juni 2019  |  12:33 WIB
Trump-Xi Sepakat Lanjutkan Perundingan, Ketegangan Sengketa Dagang Mencair
Presiden AS Donald Trump (kiri) menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping untuk membahas perdagangan kedua negara di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). - Reuters/Kevin Lamarque

Bisnis.com, JAKARTA -- Ketegangan akibat perang dagang antara AS dan China sedikit mereda setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping berlangsung dengan baik.
 
Trump dan Xi bertemu di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). Menurut Trump, negosiasi kedua negara akan terus berlangsung.
 
"Saya rasa kami kembali ke jalur," ujarnya seperti dilansir Reuters.
 
Sementara itu, kantor berita Xinhua melaporkan Pemerintah AS tidak akan menerapkan kenaikan tarif impor baru untuk produk-produk dari China, menyusul pertemuan antara Trump dan Xi. Kedua negara juga sudah sepakat untuk melanjutkan negosiasi terkait beberapa isu spesifik yang turut diangkat dalam pembicaraan penyelesaian sengketa dagang.
 
Pada awal pertemuan hari ini, Trump menyatakan bahwa AS terbuka atas kemungkinan tercapainya kesepakatan dagang bersejarah dengan China. 
 
"Saya merasa kami sebenarnya sangat dekat dan.. terjadi sesuatu yang menjauhkan kami sedikit, dan sekarang kami bergerak makin dekat," ucapnya.
 
Adapun Xi menyampaikan kesiapannya untuk bertukar pandangan terkait isu-isu fundamental dan menekankan pentingnya dialog di atas konfrontasi.
 
"Selama 40 tahun ini, perubahan besar telah terjadi dalam situasi internasional dan hubungan China-AS, tapi ada fakta mendasar yang tidak berubah. China dan AS sama-sama mendapatkan keuntungan dari kerja sama dan akan kalah dalam konfrontasi," tegasnya.
 
Perang dagang antara kedua negara sudah berlangsung selama setahun terakhir, dipicu oleh kenaikan tarif impor atas produk baja dan aluminium termasuk yang datang dari Negeri Panda. AS dan China terlibat dalam aksi saling balas kenaikan tarif impor meski upaya negosiasi terus berlangsung.
 
Sengketa dagang juga merembet ke sektor lain, yakni spionase. Perusahaan teknologi raksasa China, Huawei, menjadi korban karena dituding membantu Pemerintah China memata-matai AS lewat produk-produk yang mereka jual. 
 
Efek perang dagang pun dirasakan oleh dunia internasional serta sering disebut sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap perlambatan ekonomi global. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
KTT G20, perang dagang AS vs China

Sumber : Reuters

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top