Line Proyeksikan Bisnis Tekfinnya BEP Dalam 2 Tahun

Perusahaan layanan pengiriman pesan asal Jepang, Line Corporation, memproyeksikan lini bisnis teknologi finansial atau tekfin yang dikembangkannya akan mencapai break event point dalam 1 - 2 tahun.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 17 Juni 2019  |  20:43 WIB
Line Proyeksikan Bisnis Tekfinnya BEP Dalam 2 Tahun
Financial Technology (Fintech) - channelasia

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan layanan pengiriman pesan asal Jepang, Line Corporation, memproyeksikan lini bisnis teknologi finansial atau tekfin yang dikembangkannya akan mencapai break event point dalam 1 - 2 tahun.

Co-Chief Executive Officer Line Shin Jung-ho menjelaskan, pihaknya telah menggelontorkan investasi besar untuk operasi tekfin. Lini bisnis baru Line tersebut akan memberikan layanan yang mencakup perbankan, perdagangan saham, pinjaman, dan asuransi.

Shin menjelaskan, lini bisnis tersebut berpotensi mencatatkan keuntungan dalam 3 tahun. Tetapi, menurut dia, hal tersebut bergantung pada seberapa cepat tekfin dari Line bisa mendapatkan lisensi yang diperlukan dan bagaimana strategi dalam menarik pengguna.

"Tekfin sendiri adalah model monetisasi yang telah terbukti, satu-satunya masalah adalah seberapa cepat kita dapat mengamankan skala pengguna yang berarti. Kami membutuhkan investasi tiga hingga empat tahun untuk membangun [tekfin tersebut]," ujar Shin belum lama ini, dilansir dari Bloomberg.

Dia menjelaskan, dua hingga tiga tahun ke depan merupakan momentum penting untuk mencari tahu kebutuhan pengguna. Hal tersebut menjadi perhatian karena saat ini Line menghadapi basis pengguna yang jumlahnya stagnan, selain itu model bisnis perusahaan pun bergantung pada iklan.

Saat ini, Line memiliki 80 juta pengguna aktif  secara bulanan di Jepang, 21 juta di Taiwan, 44 juta di Thailand dan 19 juta di Indonesia. Meskipun memiliki pijakan awal di banyak pasar global, Line telah memfokuskan operasi pengiriman pesannya di empat negara Asia.

Shin menjelaskan, Line pertama-tama akan fokus mengembangkan tekfin di negara asalnya, Jepang, dan Taiwan, di mana Line telah mendominasi layanan pembayaran. Pengembangan layanan tekfin tersebut dinilai dapat berfungsi sebagai pijakan untuk ekspansi global ke depannya.

“Kompetisi messenger sudah berakhir. Saat ini kami membutuhkan inovasi lain. Tekfin bisa menjadi kandidat itu," ujar Shin.

Pada tahun lalu, Line mengumpulkan 148 miliar yen (US$1,4 miliar) dalam penjualan obligasi konversi untuk membantu mendanai ekspansi. Saham Line tercatat jatuh ke level terendah sejak penawaran umum perdana.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
line, fintech

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup