Perang Dagang Berdampak Signifikan pada Ekonomi AS & China

Tantangan ekonomi yang terus meningkat di tengah perang tarif dengan Amerika Serikat menarik pertumbuhan output industri China melambat ke laju terlemah sejak 2002 diikuti dengan lesunya minat investasi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 16 Juni 2019  |  13:22 WIB
Perang Dagang Berdampak Signifikan pada Ekonomi AS & China
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Tantangan ekonomi yang terus meningkat di tengah perang tarif dengan Amerika Serikat menarik pertumbuhan output industri China melambat ke laju terlemah sejak 2002 diikuti dengan lesunya minat investasi.

Output industri naik 5% dari tahun sebelumnya, sementara investasi aset tetap meningkat 5,6% dalam lima bulan pertama.

Keduanya lebih lambat dari pada bulan April dan di bawah ekspektasi.

Sementara itu, sektor penjualan ritel masih mampu berkembang dengan pertumbuhan 8,6% lebih tinggi dibandingkan Mei tahun lalu, sebagian karena liburan May Day yang lebih panjang mendorong lebih banyak kegiatan pariwisata dan pengeluaran masyarakat.

Pemerintah China telah berulang kali mengatakan bahwa ekonomi cukup kuat untuk mengatasi perang perdagangan.

Belum lama ini gubernur Bank Sentral China menyampaikan bahwa pihaknya memiliki ruang yang sangat lebat untuk menyesuaikan kebijakan moneter jika konflik semakin dalam.

Perlambatan yang berkelanjutan ini dapat mendorong para pembuat kebijakan untuk menggunakan kapasitas tersebut.

Lu Ting, Kepala Ekonom untuk kawasan China di Nomura Holdings Inc., Hong Kong, mengatakan bahwa Beijing dipastikan akan meningkatkan langkah-langkah pelonggaran kebijakan untuk menahan perlambatan yang memburuk.

“Kami memperkirakan Beijing akan kembali memberi pemerintah daerah lebih banyak kebebasan untuk menghapuskan beberapa pembatasan di pasar properti guna mendorong pertumbuhan," ujar Lu, seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (16/6).

Dia juga menambahkan, Beijing kemungkinan membiarkan yuan terdepresiasi lebih lanjut jika pemerintah AS memutuskan untuk mengenakan tarif tambahan 25% pada daftar sisa impor senilai US$300 miliar.

Meskipun pemerintah dan bank sentral telah meluncurkan berbagai langkah yang ditargetkan untuk mendorong ekonomi, intensitasnya tidak sebesar tahun lalu.

Langkah tersebut antara lain dengan mendorong pengeluaran infrastruktur, mendukung pertumbuhan kredit, memotong pajak dan meningkatkan konsumsi.

Adapun, investasi fixed-asset oleh perusahaan milik negara maupun swasta tercatat melambat.

Data dari Biro Statistik Nasional bahkan menunjukkan adanya penurunan minat investasi pada delapan sektor.

Meskipun melemah, investasi properti masih mencatatkan pertumbuhan 11,2% pada lima bulan pertama tahun ini, dan tetap menjadi sektor yang menopang ekonomi secara luas.

"Ini jauh lebih lemah dari yang diharapkan dan kemungkinan akan meningkatkan peluang tindakan dari PBOC dalam waktu dekat, terutama jika hasil pertemuan G20 antara pemimpin AS dan China lebih buruk dari yang diperkirakan," kata Becky Liu, Kepala Strategi Makro China di Standard Chartered Plc, Hong Kong.

Juru bicara Biro Statistik Nasional China menyatakan bahwa fluktuasi data adalah hal yang normal, namun mereka mengakui bahwa ketidakpastian eksternal tengah mengalami peningkatan.

"China memiliki sejumlah besar ruang untuk meningkatkan konsumsi dan menambahkan hampir 6 juta pekerjaan dalam lima bulan pertama tahun ini," ujar pernyataan tersebut.

Berdasarkan hasil survei, tingkat pengangguran di China sampai dengan Mei berada pada level 5% atau sama dengan catatan pada April lalu.

Menurut Iris Pang, seorang ekonom di ING Bank N.V., Hong Kong, China membutuhkan lebih dari sekadar stimulus untuk menjaga pertumbuhan produk domestik bruto di atas 6%.

"Penjualan ritel tetap terlihat baik berkat libur panjang pada bulan Mei. Namun hal itu juga bisa memberikan gambaran bahwa konsumen China lebih banyak membelanjakan uangnya di dalam negeri ketimbang pergi berlibur," kata Pang.

MANUFAKTUR AS TETAP TUMBUH

Data dari China yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan output industri mencerminkan tantangan dari perang perdagangan AS.

Di sisi lain, produksi pabrik AS melaporkan ekspansi pada bulan Mei untuk pertama kalinya sejak Desember di atas kenaikan di seluruh sektor yang menandakan sektor manufaktur bertahan di tengah ketidakpastian perdagangan.

Menurut data The Fed yang dirilis pada Jumat (14/6), yang sesuai dengan perkiraan dalam survei ekonom Bloomberg, output manufaktur naik 0,2% pada Mei setelah jatuh 0,5% di bulan sebelumnya.

Total produksi industri, yang juga mencakup tambang dan utilitas, meningkat 0,4% setelah penurunan 0,4% yang direvisi naik.

Laporan The Fed menunjukkan manufaktur bertahan bersamaan dengan peningkatan pada pasar tenaga kerja yang secara historis membantu mengimbangi ketidakpastian kebijakan perdagangan.

"Data bulanan The Fed volatil dan sering direvisi. Manufaktur, yang membentuk sekitar 75% dari total produksi industri, menyumbang sekitar 12% terhadap ekonomi AS," seperti dikutip melalui Bloomberg.

Namun, momentum pelemahan di sektor ini dalam beberapa tahun terakhir mungkin siap untuk menghadapi tekanan lebih lanjut di tengah ketegangan dagang lanjutan antara Presiden Donald Trump dengan mitra dagang utama.

Data tersebut memperlihatkan tanda-tanda ketahanan di sektor ini, termasuk peningkatan baru-baru ini dalam pengukur produksi pabrik The Fed regional Philadelphia dan New York.

Sebuah laporan terpisah menunjukkan penjualan ritel AS membukukan kenaikan secara luas pada Mei dan dua bulan sebelumnya direvisi lebih tinggi.

Produksi barang tahan lama konsumen mencatatkan kenaikan 2% yang didorong terutama oleh kenaikan 3,4% untuk produk otomotif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup