Angka Kekerasan Anak di Indonesia Masih Tinggi

Angka kekerasan yang dialami oleh anak-anak Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan ternyata masih cukup tinggi. Hal ini tidak lepas dari gagalnya pola pengasuhan dan pendidikan di Indonesia
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 11 Juni 2019  |  18:37 WIB
Angka Kekerasan Anak di Indonesia Masih Tinggi
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise (kedua kiri) bersama sociopreneur Maya Miranda Ambarsari (kiri). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Angka kekerasan yang dialami oleh anak-anak Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, ternyata masih cukup tinggi. Hal ini tidak lepas dari gagalnya pola pengasuhan dan pendidikan.

Berdasarkan hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2018 yang diluncurkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) baru-baru ini, ditemukan bahwa tiga dari lima anak perempuan dan satu dari dua anak laki-laki mengalami kekerasan emosional.

Sementara untuk kekerasan fisik, terjadi pada satu dari tiga anak laki-laki dan satu dari lima anak perempuan. Salah satu temuan dari survei tersebut adalah pelaku kekerasan banyak dilakukan oleh temannya sendiri.

Menteri PPPA Yohana Yembise mengatakan tingginya angka kekerasan tersebut berawal dari gagalnya pengasuhan dan pendidikan yang diberikan kepada anak-anak. Hal tersebut mengakibatkan anak-anak rentan mengalami berbagai tindak kekerasan dan bukan tidak mungkin menjadi pelaku kekerasan itu sendiri.

“Selain itu, mengingat banyak kekerasan dilakukan oleh teman sebayanya sendiri, pendidikan pada anak untuk tidak melakukan kekerasan juga harus terus menerus kita lakukan dan merupakan tugas dan kewajiban kita bersama,” ujarnya.

Untuk itulah, Yohana mengajak seluruh masyarakat, utamanya dunia usaha untuk bersama – sama memberikan pengasuhan dan pendidikan terbaik bagi anak-anak demi menekan angka kekerasan.

Salah satu yayasan yang mendapatkan apresiasi dari Yohana adalah Yayasan Rumah Belajar Miranda yang digagas oleh pengusaha dan sociopreneur Maya Miranda Ambarsari.

Yayasan RBM tersebut bersifat nonprofit dan menyediakan wadah bagi masyarakat, termasuk anak – anak agar dapat mengenyam berbagai kegiatan pendidikan, di antaranya taman pendidikan Alquran, kursus matematika, program pendidikan Bahasa Inggris, kursus baca tulis, taman bacaan, serta literasi media.

“Saya mengajak seluruh dunia usaha agar bersama-sama melakukan kegiatan sosial. Kita masih banyak menghadapi berbagai tantangan terutama dalam upaya perlindungan dan pemenuhan hak anak di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, kepedulian dunia usaha dan para pelaku bisnis terhadap anak-anak adalah kepedulian kita bersama akan masa depan kita, masa depan Indonesia,” ujar Yohana.

Sementara itu, Maya Miranda Ambarsari mengatakan bahwa RBM telah memfasilitasi ratusan anak kurang mampu, serta menyedikan wadah pembinaan agama dan pengajian rutin bagi ibu-ibu Majelis Ta’lim Ummul Choir sekaligus menaungi Majelis Ta’lim Tuli Indonesia (MTTI) yang para pesertanya merupakan penderita tuna rungu.

“Di RBM ini, para peserta akan mendapatkan pembekalan agam Islam serta pelatihan Baca Tulis Al-Quran (BTQ) sehingga diharapkan tidak ada lagi tuna rungu yang buta baca dan tulis Al-Quran. Di sini mereka juga mendapatkan pelatihan seperti merajut, membuat roti, dan lainnya sehingga diharapkan nantinya para peserta mandiri,” kata owner dari e-commerce JD.ID ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kekerasan anak

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top