Pemilu India: Modi Berpeluang Besar Pertahankan Kekuasaannya

Aliansi Demokrasi Nasional (NDA) pimpinan Modi diproyeksikan akan meraih 287 kursi di Majelis Rendah yang beranggotakan 545 anggota parlemen. Posisi Modi diikuti oleh 128 kursi untuk aliansi oposisi yang dipimpin partai Kongres, menurut jajak pendapat lembaga survey CVoter seperti dikutip Reuters, Minggu (19/5).
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 19 Mei 2019  |  22:32 WIB
Pemilu India: Modi Berpeluang Besar Pertahankan Kekuasaannya
Bendera India - Cultural India

Bisnis.com, JAKARTA—Koalisi parpol pendukung Perdana Menteri India, Narendra Modi berpeluang besar untuk kembali memenangkan mayoritas suara di parlemen setelah pemilihan umum berakhir pada hari ini, menurut hasil dua jajak pendapat.

Aliansi Demokrasi Nasional (NDA) pimpinan Modi diproyeksikan akan meraih 287 kursi di Majelis Rendah yang beranggotakan 545 anggota parlemen. Posisi Modi  diikuti oleh 128 kursi untuk aliansi oposisi yang dipimpin partai Kongres, menurut jajak pendapat lembaga survey CVoter seperti dikutip Reuters, Minggu (19/5).

Untuk memerintah, suatu partai atau gabungan parai-partai membutuhkan dukungan dari 272 anggota parlemen. Suara akan dihitung pada hari Kamis. 
Kendati demikian hasil polling cukup beragam di negara bagian. Sebagai negara demokrasi terbesar di dunia, India memiliki pemilih 900 juta orang.

Menurut jajak pendapat lain yang dirilis oleh Times Now, aliansi parpol pendukung Modi kemungkinan akan mendapatkan 306 kursi sehingga cukup untuk menjadi mayoritas.

Meski demikian, Narendra Modi menghadapi tantangan prospek ekonomi India yang rapuh, jika terpilih dan menjalankan periode kedua pemerintahannya.
Pengamat menilai, dukungan yang kuat terhadap Bharatiya Janata Party (BJP) yang mengusung Narendra Modi sebagai Perdana Menteri (PM) India, antara lain didorong oleh keberhasilan pemerintahan Narendra Modi dalam meningkatkan kepercayaan investor selama lima tahun kepemimpinannya.

Investor juga melihat alasan bagus untuk kemenangan partai penguasa dalam jajak pendapat. Pasalnya, pasar saham India berjalan baik selama lima tahun terakhir.

Sejak pelantikan Modi pada Mei 2014, indeks saham terbesar India, Nifty, telah meningkat 28 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sedangkan indeks MSCI Emerging Markets telah kehilangan sekitar 1persen.

Namun ada beberapa tantangan yang bisa mengancam periode kedua untuk Modi, salah satunya yang paling serius adalah tekanan dana yang telah membuntuti pasar uang jangka pendek sejak September 2018, karena wanprestasi dari infrastruktur yang luas dan kelompok keuangan IL&FS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
india

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup