Sri Lanka Kembali Memanas Akibat Kerusuhan Anti Muslim, Jam Malam Diperpanjang

Pemberlakuan jam malam di Sri Lanka diperpanjang setelah kerusuhan anti Muslim terus terjadi.
Annisa Margrit | 15 Mei 2019 09:58 WIB
Kerabat korban teror bom, di Kolombo, Sri Lanka, Senin (22/4/2019). - Reuters/Dinuka Liyanawatte

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah Sri Lanka memperpanjang pemberlakuan jam malam menyusul berbagai kerusuhan setelah terjadinya Bom Paskah pada akhir bulan lalu.

Jam malam diberlakukan untuk hari kedua, Selasa (14/5/2019). BBC melansir Rabu (15/5), polisi telah menahan 60 orang, termasuk pemimpin kelompok penganut Buddha setelah terjadi kerusuhan anti Muslim yang menewaskan 1 orang.

Polisi menyatakan jam malam untuk provinsi di barat laut Sri Lanka akan lebih panjang dibandingkan daerah lainnya. Daerah itu merupakan kawasan yang paling rawan kekerasan.

Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Colombo, ibu kota Sri Lanka, mendesak pemerintah setempat untuk segera membawa para tersangka ke persidangan dan memastikan situasi saat ini tidak kembali memanas.

Bom Paskah, yang meledak di sejumlah gereja dan hotel pada akhir April 2019, menewaskan setidaknya 250 orang.

Negara Asia Selatan ini tergolong baru merasakan perdamaian setelah perang saudara yang berlangsung selama beberapa dekade berakhir pada 2009. Jumlah warga Muslim di sana mencakup sekitar 10 persen dari total 22 juta penduduk, sedangkan penganut Buddha mendominasi.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sri lanka

Sumber : BBC

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup