Belt and Road Initiative, China Janjikan Sistem Pendanaan yang Transparan

Pemerintah China berjanji untuk memperbaiki pengaturan pendanaan proyek-proyek di sepanjang jaringan infrastruktur Belt and Road Initiative (BRI) sebagai tanggapan atas kritik yang menyudutkan program ini sebagai jebakan utang bagi negara-negara berkembang.
Nirmala Aninda | 26 April 2019 03:34 WIB
Seorang perempuan mengabadikan logo Belt and Road Forum (BRF), di Beijing, China, Kamis (25/4/2019). - Reuters/Florence Lo

Bisnis.com, JAKARTA -  Pemerintah China berjanji untuk memperbaiki pengaturan pendanaan proyek-proyek di sepanjang jaringan infrastruktur Belt and Road Initiative (BRI) sebagai tanggapan atas kritik yang menyudutkan program ini sebagai jebakan utang bagi negara-negara berkembang.

Gubernur PBOC Yi Gang Bank Sentral China (PBOC) mengatakan pihaknya akan membangun sistem pembiayaan dan investasi yang terbuka dan berorientasi pada kebutuhan pasar.

Pernyataan Yi dalam sambutannya di forum Belt and Road kedua tersebut menyusul komentar serupa yang dilontarkan oleh Menteri Keuangan China Liu Kun serta sesuai dengan upaya Beijing dalam memoles citra kebijakan luar negeri Presiden Xi Jinping di tengah tuduhan bahwa program ini adalah langkah untuk meningkatkan pengaruh global China.

Inisiatif akan mengalami beberapa perubahan, di mana pemerintah berencana untuk menekan retorika negatif dan memperketat pengawasan pengelolaan kerjasama.

Lembaga keuangan China melaporkan telah menyediakan lebih dari US$440 miliar untuk pembangunan Belt dan Road.

"Pendanaan pemerintah utamanya untuk meningkatkan modal dari sektor swasta. Pembiayaan sektor swasta akan menjadi kekuatan utama sementara pendanaan pemerintah hanya akan memainkan peran penuntun, peran leverage," kata Yi, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (25/4/2019).

Sementara sebagian besar proyek-proyek Belt dan Road terus berjalan sesuai rencana, beberapa harus tertahan karena perubahan dalam pemerintahan di negara-negara seperti Malaysia dan Maladewa.

Ada pula proyek yang ditangguhkan karena alasan keuangan termasuk pembangkit listrik di Pakistan dan bandara di Sierra Leone.

Yi juga menekankan, untuk menghindari ketimpangan dan risiko nilai tukar pada sistem pendanaan, China akan menggunakan mata uang lokal pada setiap kegiatan investasi pada program BRI.

Dia mengatakan bahwa Beijing akan mengikuti prinsip-prinsip pasar dan mengandalkan dana komersial untuk pembiayaan proyek BRI, memperkuat manajemen utang dan risiko, serta secara objektif memahami permasalahan utang pada negara berkembang.


KUALITAS DIATAS KUANTITAS


Sesuai dengan janji Presiden China Xi Jinping yang berkomitmen untuk mendorong proyek ramah lingkungan, para pejabat pemerintah China dan perusahaan milik negara seperti China National Petroleum Corp dan China Communications Construction Corp mengatakan mereka akan lebih memperhatikan konservasi dan perlindungan lingkungan.

Mereka juga berjanji untuk mengedepankan proyek-proyek berkualitas lebih tinggi yang akan mempekerjakan lebih banyak staf lokal dan menanggapi kebutuhan negara-negara penerima manfaat.

Jose Vinals, Preside Standard Chartered Bank, mengatakan dari forum ini dia berharap untuk melihat inisiatif yang fokus pada kualitas dan multilateralisme.

Menurut Vinals, keterlibatan bilateral cenderung memiliki transparansi dan tingkat tata kelola yang lebih rendah, dan pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas proyek.

"Sangat penting untuk menekankan kualitas proyek daripada kuantitas proyek," katanya, seperti dikutip melalui Reuters.

Sejumlah kepala negara yang diagendakan hadir dalam forum ini antara lain sejumlah sekutu China seperti Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan.

Tidak ketinggalan, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte juga akan hadir, di mana dia menjadi negara G7 pertama yang menandatangani kerjasama BRI.

Sementara itu, Amerika Serikat yang belum menyatakan keikutsertaanya dalam program ini kemungkinan hanya akan mengirim delegasi berpangkat lebih rendah, dan tidak seorangpun dari Washington.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, one belt one road

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top