Dua Pesawat Militer Rusia Berisi Puluhan Personel Mendarat di Venezuela

Dua pesawat angkatan udara Rusia mendarat di bandara utama Venezuela membawa seorang pejabat pertahanan Rusia dan hampir 100 tentara di tengah krisis politik masih melanda negara Ameriak Latin tersebut .
John Andhi Oktaveri | 25 Maret 2019 06:45 WIB
Pesawat Rusia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Dua pesawat angkatan udara Rusia mendarat di bandara utama Venezuela membawa seorang pejabat pertahanan Rusia dan hampir 100 tentara di tengah krisis politik masih melanda negara Ameriak Latin tersebut.

 Menurut laporan media setempat kedatangan militer asing itu bertujuan untuk memperkuat hubungan antara Caracas dan Moskow. Pesawat itu dilaporkan mendarat di Bandara Internasional Simon Bolivar. 

Sebuah situs web pelacakan penerbangan menunjukkan bahwa dua pesawat berangkat dari bandara militer Rusia menuju Caracas pada Jumat lalu. Sedangkan situs pelacakan penerbangan lainnya menunjukkan bahwa ada satu pesawat meninggalkan Caracas pada hari Minggu sebagaimana dikutip Reuters, Senin (25/3/2019).

Kedatangan dua pesawat itu terjadi tiga bulan setelah kedua negara mengadakan latihan militer di Venezuela yang oleh Presiden Nicolas Maduro disebut sebagai tanda hubungan yang menguat. Akan tetapi Washington mengkritiknya sebagai intervensi Rusia di wilayah tersebut.

Media Javier Mayorca menulis di Twitter pada hari Sabtu bahwa pesawat pertama membawa Vasily Tonkoshkurov, kepala staf pasukan darat. Sedangkan pesawat kedua adalah pesawat kargo yang membawa muatan sebesar 35 ton.

Pesawa jet penumpang Ilyushin IL-62 dan pesawat kargo militer Antonov AN-124 dilaporkan oleh situs Flightradar24 berangkat ke Caracas pada hari Jumat dari bandara militer Rusia Chkalovsky.

Pesawat itu berhenti di sepanjang jalan di Suriah, menurut laporan itu. Sedangkan kantor berita milik pemerintah Rusia, Sputnik melaporkan penerbangan itu membawa para pejabat untuk "bertukar konsultasi".  

 Seorang saksi mata dari Reuters melihat pesawat jet penumpang di bandara Maiquetia pada hari Minggu (24/3/2019). Namun Kementerian Informasi Venezuela tidak segera membalas permintaan untuk memberi komentar.

Kementerian Pertahanan Rusia dan Kementerian Luar Negeri tidak membalas pesan yang meminta komentar. Juru bicara Kremlin juga tidak menjawab permintaan komentarnya.

AS mengenakan sanksi yang melumpuhkan industri minyak negara OPEC itu dalam upaya untuk mendorong Maduro turun dari kekuasaan dan telah meminta para pemimpin militer Venezuela untuk meninggalkannya. Akan tetapi Maduro mengecam sanksi tersebut sebagai intervensi AS dan mendapatkan dukungan diplomatik dari Rusia dan China.

Pada Desember tahun lalu, dua pesawat pembom strategis Rusia yang mampu membawa senjata nuklir mendarat di Venezuela sebagai bentuk dukungan bagi pemerintah sosialis Maduro yang membuat geram Washington.

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
venezuela, rusia

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup