Boeing Sempat Janjikan Pembaruan Software 737 Max Usai Lion Air Jatuh Tahun Lalu

Boeing sempat berjanji bakal memperbarui perangkat lunak pesawat 737 Max 8 setelah pesawat Lion Air jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Oktober 2018.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 15 Maret 2019  |  10:59 WIB
Boeing Sempat Janjikan Pembaruan Software 737 Max Usai Lion Air Jatuh Tahun Lalu
Segel terpasang pada badan pesawat Boeing 737 Max 8 milik Garuda Indonesia, di Garuda Maintenance Facility AeroAsia, bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (13/3/2019). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Boeing dikabarkan sempat menyatakan akan melakukan pembaruan atas perangkat lunak pesawat model 737 Max pada akhir 2018. Namun, hal itu masih belum terealisasi.

Dilansir dari The New York Times, Jumat (15/3/2019), tak lama setelah kecelakaan Lion Air terjadi pada Oktober 2018, Boeing bertemu dengan serikat pilot Southwest Airlines dan American Airlines--dua maskapai besar di AS--secara terpisah. Saat itulah, perwakilan Boeing menyampaikan rencana pembaruan perangkat lunak tersebut.

Tetapi, itu juga menjadi saat terakhir serikat pilot Southwest menerima kabar dari Boeing. Setelah Ethiopian Airlines jatuh pada Minggu (10/3), baru lah regulator AS mengatakan bahwa pembaruan perangkat lunak akan siap pada April 2019.

Penundaan ini menjadi salah satu hal yang menjadi pertanyaan terkait respons Boeing atas kecelakaan Lion Air. Kecelakaan Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 orang, yang disebut-sebut mirip dengan peristiwa pertama di Indonesia, menunjukkan adanya kemungkinan masalah yang sama dengan sistem otomasi yang memerlukan pembaruan.

Hal itu pula yang menjadi dasar otoritas penerbangan di sejumlah negara, termasuk Indonesia, memutuskan untuk melarang pesawat model 737 Max 8 dioperasikan untuk sementara. Selain itu, Boeing juga diminta untuk menghentikan sementara pengiriman model 737 Max ke para pemesan.

Presiden Serikat Pilot Southwest Jon Weaks menuturkan pembaruan tersebut bertujuan untuk mendeteksi masalah yang ada dan mencegahnya untuk kembali terjadi. Pejabat Boeing disebut menilai bahwa para pilot tidak perlu melakukan pelatihan ekstra dan perusahaan hanya perlu menginformasikan kepada para pilot bagaimana perubahan perangkat lunak itu akan berfungsi.

Perwakilan kedua maskapai mengaku frustrasi karena tidak mendapat pemberitahuan mengenai sistem perangkat lunak baru yang ditanamkan di model 737 Max sebelum Lion Air jatuh. Maneuvering Characteristics Augmentation System (MACS) adalah sistem otomatis yang bertujuan mencegah pesawat berada dalam kondisi stall.

"Menurut sepengetahuan kami, ini adalah pertama kalinya pilot tidak diberi tahu mengenai sistem besar di sebuah pesawat yang dapat mempengaruhi kontrol penerbangan," papar pejabat Serikat Pilot American Michael Michaelis.

Dia memaparkan informasi tentang sistem tersebut disinggung sekali di dalam lampiran manual resmi pesawat, tapi tidak dijelaskan apa sistem itu maupun fungsinya.

Michaelis menambahkan government shutdown AS yang terjadi belum lama ini turut berkontribusi terhadap penundaan pembaruan perangkat lunak tersebut.

Meski Boeing kemudian memberikan informasi dasar tentang MCAS, tapi Michaelis mengklaim salah satu produsen pesawat terbesar dunia itu belum memasukkan penjelasan lengkap mengenai cara kerjanya dalam manual resmi.

Sementara itu, anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Peter A. DeFazio, mengungkapkan berencana menyelidiki sertifikasi atas 737 Max dari Federal Aviation Administration (FAA). Termasuk, mengapa regulator tidak mengamanatkan pelatihan yang lebih substansial kepada para pilot.

Untuk dianggap memiliki kualifikasi menerbangkan pesawat tersebut, para pilot di maskapai American diberi pelatihan selama 56 menit dengan iPad dan sekitar selusin dokumen mengenai perbedaan armada Max dan model 737 terdahulu. Adapun para pilot Southwest dilatih dengan menggunakan modul e-learning menggunakan iPad milik perusahaan, yang terdiri atas presentasi video berdurasi kurang dari 3 jam.

Saat ini, kedua maskapai tengah menanti simulator yang mencakup sistem 737 Max yang diharapkan tiba pada akhir 2019. Maskapai American mengklaim telah memesan simulator tersebut setelah Lion Air jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat dan menewaskan 189 orang.

American memiliki 24 unit 737 Max 8, sedangkan Southwest mempunyai 34 unit dan United Airlines 14 unit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
boeing, pesawat jatuh

Sumber : The New York Times

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top