Indonesia Buka Peluang Investasi Teknologi dan Pembangunan Parwisata untuk Pengusaha San Fransisco

Pemerintah Indonesia mengajak para pengusaha dari perusahaan IT dan kamar dagang di San Fransisco untuk berinvestasi di sektor teknologi digital dan pembangunan destinasi pariwisata baru
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 22 Februari 2019  |  12:33 WIB
Indonesia Buka Peluang Investasi Teknologi dan Pembangunan Parwisata untuk Pengusaha San Fransisco
KJRI) di San Francisco dengan Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York menyelenggarakan Indonesia-San Francisco Business Forum 2019 - Dok. KJRI San Fransisco

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Indonesia mengajak para pengusaha dari perusahaan IT dan kamar dagang di San Fransisco untuk berinvestasi di sektor teknologi digital dan pembangunan destinasi pariwisata baru.

Ajakan ini digemakan melalui kegiatan Indonesia-San Francisco Business Forum 2019 yang mengusung tema “Invest in A Reformed Indonesia: Utilizing Digital Technology in Developing Regional and Tourism Investment Opportunities" di San Fransisco, Rabu (20/2/2019).

Pelaksana Tugas Konsul Jenderal Indonesia di San Fransico, Hanggiro Setiabudi menyatakan kegaiatan forum bisnis ini bertujuan untuk mempromosikan Indonesia kepada kalangan bisnis dan masyarakat di California Utara.

Forum bisnis ini juga bertujuan untuk memberi gambaran pada pelaku usaha mengenai perkembangan ekonomi Indonesia terkini, khususnya bidang-bidang yang potensial bagi investor asing, yakni bidang teknologi digital dan pengembangan destinasi pariwisata.

"Kunjungan Presiden Joko Widodo pada 2016 ke Silicon Valley mencerminkan niat Indonesia untuk membangun digital ekonomi," ungkap Hanggiro dikutip dari rilis resmi, Jumat (22/2/2019).

Potensi Ekonomi

Sementara itu, Executive Director Global SF Darlene Chiu Bryant, yang turut mendukung kegiatan ini, mengemukakan bahwa Indonesia dan Amerika Serikat, terutama San Fransisco memiliki potensi ekonomi yang mirip.

"Keduanya memiliki kesamaan yakni sebagai gerbang menuju Pasifik. Selain itu, Indonesia adalah negara yang besar dan kaya akan sumber mineral dan minyak bumi. Kami melihat industri yang berkembang antara lain industri makanan, pertanian, garmen, manufaktur, dan pariwisata," paparnya.

Senada dengan Bryant, Kepala Perwakilan BI New York, Dwityapoetra S. Besar, mengatakan potensi investasi ini didukung pula dengan kondisi perekonomian dalam negeri.

"Pertumbuhan ekonomi ke depan masih stabil didukung oleh konsumsi domestik yang kuat, defisit neraca perdagangan yang cenderung menurun dan inflasi yang terjaga," ungkap Dwityapoetra.

Dalam sektor teknologi, perwakilan Indonesia mengungkapkan posisi Indonesia sebagai salah satu dari 10 negara tertinggi yang menggunakan internet dan diprediksi memiliki pertumbuhan internet tercepat di Asia Tenggara yang mencapai 49%.

Menurut Kepala Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York, Rahardjo Siswohartono, pada 2018 ekonomi digital Indonesia mencapai US$ 27 miliar. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara terbesar dan tumbuh paling pesat di Asia Tenggara. Google dan Temasek bahkan memprediksi angka tersebut akan mencapai nilai US$100 miliar dalam 10 tahun.

Selain perkembangan ekonomi digital termasuk Fintech, para peserta sangat antusias dan mendiskusikan lebih lanjut potensi pengembangan destinasi pariwisata Indonesia. Salah satunya adalah rencana 10 destinasi baru bernama “the New Bali” yang mencakup rencana pembangunan infrastruktur pendukung dan sektor transportasi udara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata, teknologi, amerika serikat

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup