Tingkat Konsumsi Masyarakat China di Periode Imlek 2019 Tumbuh Melambat

Tekanan pada konsumsi masyarakat China terus berlangsung bahkan selama liburan Tahun Baru Imlek yang dirayakan dalam skala besar sebagai festival tahunan. Hampir sebagian besar orang berpergian, belanja, serta memberikan hadiah barang atau  uang.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 11 Februari 2019  |  20:20 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Tekanan pada konsumsi masyarakat China terus berlangsung bahkan selama liburan Tahun Baru Imlek yang dirayakan dalam skala besar sebagai festival tahunan. Hampir sebagian besar orang berpergian, belanja, serta memberikan hadiah barang atau  uang.

Kementerian Perdagangan China melaporkan masyarakat menghabiskan uang sebesar 1,01 triliun yuan atau senilai US$149 miliar di restoran, pusat perbelanjaan, dan outlet belanja daring sepanjang satu pekan selama liburan berlangsung.

Realisasi ini tumbuh 8,5% dari masa perayaan Tahun Baru Imlek pada 2018, tetapi merupakan peningkatan yang paling lambat sejak setidaknya 2011.

Konsumen China yang semakin hemat membuat para investor menjadi resah karena sebagian besar perusahaan seperti Apple Inc., Swatch Group AG dan produsen mobil mewah mulai melakukan penghematan operasional yang berdampak pada keuntungan.

Pertumbuhan yang lebih lemah, ketidakpastian perang dagang dengan Amerika Serikat dan penghapusan hutang sepanjang 2018 telah membuat negeri panda kehilangan momentum untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Dampak pelemahan ini juga berakibat pada kontraksi penjualan mobil untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekase sementara pertumbuhan penjualan ritel mengalami pertumbuhan dengan laju paling lambat sejak 2002.

"Kami percaya konsumsi rumah tangga kemungkinan akan lesu," ujar Lu Ting, seorang ekonom di Nomura Holding Inc.

Lu memperhitungkan faktor utang rumah tangga, prospek pertumbuhan pendapatan yang stagnan di tengah pelemahan ekonomi dan sektor properti yang semakin lesu.

"Kami berharap pemerintah untuk lebih bergantung pada invetasi infrastruktur untuk menstabilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi mungkin butuh waktu untuk memulai proyek investasi infrastruktur," tambahnya.


Mengutip data dari Kementerian Perdagangan, stasiun televisi CCTV melaporkan bahwa pengeluaran di tempat-tempat wisata naik 8,2% menjadi 513,9 miliar yuan, lebih lambat dari kenaikan 12,6% pada tahun lalu.

Sementara itu, berdasarkan data statistik dari platform layanan tiket bioskop Alibaba Pictures, pendapatan industri bioskop domestik tercatat lebih tinggi 1% dari tahun lalu.

JD.com melaporkan lonjakan penjualan sebesar 43% secara tahunan selama libur tahun baru imlek.

Produk seperti ponsel, komputer dan peralatan rumah tangga berada di urutan teratas dalam daftar belanja. Situs dagang-el terbesar kedua di China tersebut melaporkan penjualan peralatan dapur dan furnitur mengalami lonjakan pembelian selama hari libur.

Di sisi lain, Alibaba Group Holding Ltd. mencatatkan pertumbuhan pengeluaran dari konsumen di kota-kota kecil hingga 55%, lebih tinggi dari kota-kota besar dimana masyarakat terhimpit oleh harga perumahan yang lebih tinggi.

Menurut situs pariwisata online Alibaba, Turis asal China memilih Hong Kong, Thailand, dan Makau sebagai tujuan utama liburan luar negeri sementara Amerika Serikat menempati posisi ketujuh meskipun kedua negara tengah berada dalam kondisi ketegangan perdagangan.

Turis dari mainland China yang berkunjung ke Makau tercatat mencapai 900.000 orang selama libur panjang yang berlangsung 7 hari atau tumbuh 26% dari angka wisatawan tahun lalu.

Tahun Baru Imlek jatuh pada tanggal yang berbeda di bulan Januari atau Februari setiap tahun.

Selama liburan, ratusan juta orang melakukan perjalanan ke kota asal mereka atau pergi ke luar negeri untuk mengunjungi kerabat dan pergi makan.

Liburan tahun ini jatuh pada 4-10 Februari, sedangkan 15-21 Februari pada tahun 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi china

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top