Indonesia-Inggris Kerja Sama Pendanaan Riset Kebencanaan Rp31 Miliar

Supaya masyarakat paham kita di ring of fire, kita dikatakan negara rawan dilanda bencana, tapi kita harus tahu bencana itu sendiri, bagaimana timbulnya bencana, bagaimana bisa menghindari bencana.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 08 Februari 2019  |  10:21 WIB
Indonesia-Inggris Kerja Sama Pendanaan Riset Kebencanaan Rp31 Miliar
Suasana Sungai Ciliwung yang meluap dan merendam pemukiman di Kampung Pulo, Jakarta, Selasa (6/2). Sungai Ciliwung meluap akibat curah hujan yang tinggi di wilayah hulu sungai. ANTARA FOTO - Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menjalin kerja sama dengan Inggris untuk pendanaan riset kebencanaan melalui program Newton Fund.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, kerja sama dengan Departemen Bisnis, Energi dan Strategi Industri Inggris melalui Newton Fund tersebut untuk mendanai penelitian terbaik dalam bidang kebencanaan hidrometeorologi (yang membahas hujan lebat beserta dampaknya).

Tiga penelitian terbaik mendapatkan pendanaan senilai Rp31 miliar dalam jangka waktu 3 tahun. Satu peneliti Indonesia akan berkolaborasi dengan satu peneliti Inggris untuk melakukan penelitian kebencanaan.

“Risetnya ini dilakukan Kemenristekdikti yang berkolaborasi dengan Inggris dengan Newton Fund maupun (dengan dana) dari Indonesia. Setelah itu, mengedukasi pada mahasiswa atau masyarakat kampus. Masyarakat kampus inilah yang mengedukasi masyarakat nantinya. Supaya masyarakat paham kita di ring of fire, kita dikatakan negara rawan dilanda bencana, tapi kita harus tahu bencana itu sendiri, bagaimana timbulnya bencana, bagaimana bisa menghindari bencana. Dengan demikian tidak terjadi korban yang berkelanjutan,” ujar Nasir dikutip dari siaran persnya, Jumat (8/2/2019).

Hal tersebut disampaikan Nasir saat Peluncuran Kerja Sama Riset Kebencanaan Indonesia – Inggris melalui Program Newton Fund di Kemenristekdikti (7/2). Nasir meluncurkan program ini bersama Duta Besar Kerajaan Inggris untuk Indonesia, ASEAN dan Timor Leste, Moazzam Malik.

Nasir menambahkan bahwa Kemenristekdikti dan peneliti Indonesia juga telah menginisiasi kerja sama riset kebencanaan gempa bumi, tsunami, asap, dan bencana alam lainnya dengan negara lain, seperti Jepang, Amerika Serikat, Perancis dan negara lainnya.

Dubes Inggris Moazzam Malik berharap melalui skema kerja sama ini peneliti Indonesia dan peneliti Inggris dapat menghasilkan penelitian yang berdampak besar pada penanggulangan bencana banjir.

“Bencana banjir dan longsor tidak hanya mengancam keberlangsungan hidup masyarakat, namun juga perkembangan ekonomi Indonesia. Ilmuwan terbaik Inggris dan Indonesia akan bekerja sama saling belajar agar bisa membuat suatu perubahan besar serta menginspirasi generasi ilmuwan muda berikutnya,” ujar Moazzam Malik.

Malik juga menyampaikan Inggris bangga dapat berkolaborasi dengan Indonesia dalam mengembangkan penelitian dan inovasi terkait kebencanaan.

“Bidang sains dan riset Inggris menempati posisi kedua dunia, 54% hasil penelitiannya masuk ke dalam kategori terbaik dunia. Hasil riset Inggris dikutip lebih banyak, bila dibandingkan dengan hasil riset negara lainnya, 38% peraih Nobel memilih untuk bersekolah di Inggris. Saya bangga kami bisa bermitra dengan ilmuwan di Indonesia serta berkontribusi membangun Indonesia yang lebih aman, lebih makmur, dan lebih unggul,” kata Malik.

Untuk 2019, Newton Fund di Indonesia akan mendanai tiga judul proposal penelitian yang dipilih dari sekitar 20 proposal, yaitu:

1. Mitigating hydro meteorological hazard impacts through transboundary river management in the Ciliwung River basin yang akan diteliti oleh Harkunti Rahayu (Institut Teknologi Bandung) dan Richard Haigh (University of Huddersfield). Riset ini ditujukan untuk meningkatkan pengelolaan badan sungai Ciliwung dan kepedulian masyarakat terhadap ancaman banjir.

2. Java Flood One, yang diteliti oleh Agus Mochamad Ramdhan (Institut Teknologi Bandung) dan Simon Mathias (Durham University). Hasil riset ini akan meningkatkan prediksi banjir jangka menengah di beberapa pusat kota pulau Jawa, termasuk Jakarta, Bandung dan Surakarta.

3. Extreme rainfall and its effects on flood risk in Indonesia, yang diteliti oleh Suroso (Universitas Jenderal Soedirman) dan Chris Kilsby (Newcastle University). Riset ini ditujukan untuk mengidentifikasi penyebab utama banjir di Indonesia dan strategi-strategi utama yang dapat memitigasi risiko bencana.

“Proses pemilihan tiga penelitian yang didanai dilakukan dengan proses yang terbuka, transparan, dan kompetitif. Sebanyak 23 proposal yang masuk dinilai oleh reviewer dari Indonesia dan Inggris, 10 proposal yang lolos didiskusikan pada panel meeting Agustus 2018, sampai akhirnya diputuskan bersama tiga proposal yang didanai bersama dengan total dana Rp31 miliar selama 3 tahun,” kata Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kampus, riset

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top