Drama Bursa Cryptocurrency Quardiga, Benar Terjadi atau Akal-akalan Semata?

Kematian seorang pendiri dan pemilik bursa cryptocurrency menjebak uang senilai C$ 190 juta milik investor, namun sejumlah pihak masih meragukan apakah hal tersebut benar-benar terjadi.
Aprianto Cahyo Nugroho | 07 Februari 2019 07:07 WIB
Pendiri Quadriga Gerald Cotten - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Kematian seorang pendiri dan pemilik bursa cryptocurrency menjebak uang senilai C$ 190 juta milik investor, namun sejumlah pihak masih meragukan apakah hal tersebut benar-benar terjadi.

Sejak Quadriga CX mengungkapkan bulan lalu bahwa pendirinya Gerald Cotten, yang meninggal di India pada bulan Desember, adalah satu-satunya orang yang dapat mengakses buku besar bursa cryptocurrency tersebut, sejumlah analis blockchain, perusahaan riset, dan detektif amatir berdebat tentang apakah sebagian dari uang tersebut telah berpindah antar rekening sejak dia meninggal dan bahkan menduga koin digital tersebut tidak ada sama sekali.

Istri Cotton, Jennifer Robertson, memicu gejolak setelah mencari perlindungan dari kreditur untuk perusahaan yang berbasis di Vancouver tersebut, mengatakan bahwa almarhum suaminya sangat sadar tentang keamanan dan dia tidak tahu kata sandi atau kunci untuk memulihkan laptop milik suaminya yang dienkripsi. Dia juga tidak dapat menemukan petunjuk tertulis apapun.

Tanpa sandi akun digital tersebut, sangat sulit untuk membuka buku besar dan memindahkan koin digital senilai US$144 juta yang disimpan Quadriga CX di bursa. Meskipun para pendukung mata uang digital berpendapat bahwa blockchain yang tidak dapat rusak adalah fitur utamanya, investor Bitcoin dan Ethereum sering kehilangan kode digital mereka dan tidak dapat mengkases koin mereka.

Argumen bahwa itulah yang terjadi dengan Quadriga tidak lantas membuat sebagian orang percaya, terutama bagi ahli industri blockchain yang keram menjelajahi buku besar anonim yang mendukung jaringan desentralisasi untuk mencari bukti di mana koin digital dapat disimpan.

Seorang profesor di Universitas Cornell dan direktur dari Initiative for CryptoCurrencies and Contracts, Emin Gün Sirer mengatakan kisah Quardiga tersebut tidak masuk akal.

"Satu hal yang menakjubkan tentang blockchain adalah bahwa siapa pun, perusahaan manapun, pada dasarnya dapat mengaudit," ungkap Sirer, seperti dikutip Bloomberg.

Seorang hakim dijadwalkan berurusan dengan mosi untuk menunjuk pengacara yang akan mewakili pemegang rekening Quadriga pada sidang pada 14 Februari mendatang di Mahkamah Tinggi Halifax, menurut dokumen pengadilan yang diajukan Rabu.

Langkah ini dilakukan setelah beberapa investor meminta pengadilan untuk meminta Bennett Jones LLP dan McInnes Cooper mewakili mereka selama proses.

Robertson mengatakan suaminya memindahkan sebagian besar memindahkan aset digital ke cold storage, atau penyimpanan tanpa akses internet, dan para pakar yang dia bawa untuk mencoba meretas komputer dan ponselnya tidak berhasil melakukan upaya berarti. Usaha untuk menghindari kunci USB terenkripsi telah gagal, katanya dalam pengajuan pengadilan.

"Jika dana dibekukan dan cold storage tidak dapat diakses, mungkin Quadrigadapat memberikan alamat cold storage itersebut sehingga klaim mereka dapat diverifikasi dengan bantuan blockchain," kata Sirer.

Perusahaan-perusahaan analisis seperti Elementus mengatakan bahwa dengan memeriksa pola blockchain, mereka dapat menebak dompet mana yang berisi koin yang terkunci tersebut.

Peretasan

Elementustersebut mengatakan tidak dapat menemukan cold storage yang menyimpan Ethereum, salah satu cryptocurrency yang hilang. Alih-alih, Quadriga memindahkan Ethereum ke bursa cryptocurrency yang lebih besar hingga pertengahan Januari, kata Elementus.

“Pada saat yang sama, polanya dapat berarti bahwa Quadriga telah mengatur transfer otomatis ke bursa yang lebih besar ketika saldo dompetnya mencapai jumlah tertentu, atau, bahwa ada beberapa bisnis mencurigakan yang sedang terjadi," kata pendiri Elementus, Max Galka.

Dunia mata uang digital yang sebenarnya tidak diatur telah menjadi tempat berkembang biaknya peretasan dan pencurian sejak Bitcoin ditemukan lebih dari satu dekade lalu.

Setidaknya ada lima serangan besar tahun lalu, dengan Jepang yang menjadi rumah bagi beberapa bursa aset digital paling aktif di dunia, juga menjadi sasaran dua peretasan cryptocurrency terbesar yang pernah ada, yaitu Peretasan Mt. Gox tahun 2014 dan pencurian token digital senilai hampir US$500 juta dari Coincheck Inc. Januari 2018 lalu.

Jesse Powell, kepala bursa cryptocurrency Kraken, mengatakan memiliki beberapa saldo Quadriga. Dari sekitar 230.000 koin Ether yang seharusnya dimiliki Quadriga, hanya sekitar 1.000 koin yang tersisa di wallet-nya sendiri, kata Galka.

"Tidak transparan mengenai di mana uang itu ada di blockchain merupakan hal yang tidak biasa," kata Christine Duhaime, seorang pengacara Kanada yang berspesialisasi dalam anti pencucian uang.

Cotten meninggal karena komplikasi akibat penyakit Crohn di Jaipur, India, menurut pernyataan tertulis Robertson dan dokumen kematian dari Rumah Pemakaman J.A. Snow di Halifax.

Sekitar 115.000 pengguna memiliki setoran di bursa ketika berhenti bekerja, menurut pernyataan tertulis Robertson, yang diajukan pada 31 Januari.

Tag : bitcoin, cryptocurrency
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top