Marak Deklarasi Alumni Tak Pengaruhi Suara Kaum Terpelajar

Suara kalangan terpelajar menjadi basis suara yang paling tak bisa ditebak ke mana arahnya.
Aziz Rahardyan | 07 Februari 2019 22:27 WIB
Calon Presiden Joko Widodo menghadiri deklarasi dukungan 'Alumni Pangudi Luhur Bersatu' di Energy Building, Jakarta, Rabu (6/2/2019). - Bisnis/Amanda Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA — Hasil survei dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang mengukur perubahan 6 kantong suara yaitu basis pemilih Muslim, Minoritas, Wong Cilik, Perempuan, Kalangan Terpelajar, dan Milenial, menghasilkan kesimpulan bahwa suara kalangan terpelajar, menjadi basis suara yang paling tak bisa ditebak ke mana arahnya.

Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby menyebut sikap kritis dan kemandirian menentukan sikap, membuat suara mereka tidak bisa diklaim sembarangan. Apalagi hanya lewat deklarasi alumni yang kini marak di berbagai kota. Adjie menilai agenda semacam itu tidak akan berpengaruh secara signifikan.

"Kalau dari data, tidak terlalu berpengaruh ya, apa dukungan kelompok, komunitas, kampus, yang mendukung salah satu calon baik Jokowi maupun Prabowo. Karena karakter terpelajar umumnya mereka lebih kritis melihat dan menilai [kualitas] capres," jelas Adjie di kantor LSI, Kamis (7/2/2019).

"Hal-hal yang bersifat simbolik dukungan-dukungan itu, tidak berpengaruh untuk kalangan pelajar. Mereka lebih menilai sosok dan isunya," tambahnya.

Basis suara kaum terpelajar memang kecil, dengan hanya 11,5% suara nasional. Tetapi Adjie menyebut suara mereka memiliki nilai tambah tersendiri. Salah satunya, kemampuannya untuk mempengaruhi basis suara lain.

Menariknya, hingga kini belum ada pasangan calon yang bisa mendominasi suara para intelektual ini. Sejak enam bulan terakhir, LSI mencatat pilihan mereka begitu fluktuatif dan tak tampak kecenderungan mendukung pasangan tertentu.

Pada Agustus 2018 sebanyak 40,4% memilih Jokowi-Ma'ruf, sedangkan 44,5% memilih Prabowo-Sandi. Bulan berikutnya, September 2018, keunggulan berbalik untuk Jokowi-Ma'ruf dengan persentase 44,0% berbanding 37,4% dari basis suara.

Suara kaum terpelajar pada Oktober 2018 kembali berpihak pada Prabowo-Sandi sebesar 46,8% berbanding 40,5% untuk Jokowi-Ma'ruf. Tetapi pada November 2018, Jokowi-Ma'ruf menyusul kembali dengan persentase 43,5% berbanding 42,4% dari basis suara.

Terakhir, kendati petahana bisa mempertahankan keunggulan pada Desember 2018 dengan dipilih sebanyak 42,7% berbanding 36,9%, pada Januari 2019 mereka harus rela turun menjadi 37,7% dan dominasi pilihan para intelektual berbalik kembali ke penantang yang dipilih 44,2% dari basis suara.

Adjie menilai suara kaum terpelajar akan lebih banyak berkutat dalam mengevaluasi hasil kinerja petahana, Presiden Joko Widodo.

"Umumnya informasi kepada capres lebih banyak tentang pak Jokowi. Lima tahun mereka bisa menilai apa yang dilakukan pak Jokowi selama lima tahun, [pembuktian] janji-janji selama lima 5 tahun, dan apa yang telah dicapai," jelas Adjie.

Oleh sebab itu, wacana bersifat revolusioner yang dibawa kedua paslon dirasa sanggup menjadi kunci untuk merangkul suara mereka. Salah satunya dalam menyikapi kebijakan dan kasus-kasus yang berkembang belakangan.

"Kelompok terpelajar ini umumnya mereka lebih suka dengan hal-hal perubahan, alternatif, mereka berjarak dengan kekuasaan, lebih mandiri menentukan sikap," jelasnya.

"Kasus-kasus misalnya Ahmad Dhani, Rocky Gerung, undang-undang ormas, menjadi salah satu hal yang membuat mereka bisa melihat, mengevaluasi, yang dilakukan petahana selama 5 tahun ini," tutupnya.

Tag : survei, Pilpres 2019
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top