Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Setelah Bebas, ke Mana Ahok Berlabuh?

Jika merapat ke kubu Jokowi, maka akan terjadi serangan gencar dari pesaing. Kalaupun mendekat ke Prabowo, akankah para fans Ahok legawa?
Kahfi
Kahfi - Bisnis.com 23 Januari 2019  |  08:35 WIB
Sejumlah pendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyalakan lilin saat aksi solidaritas di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Sabtu (13/5/2017). Aksi tersebut sebagai bentuk dukungan serta simpati untuk Ahok yang ditahan setelah divonis majelis hakim dengan hukuman dua tahun penjara karena dinilai terbukti melakukan penodaan agama. - Antara
Sejumlah pendukung Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menyalakan lilin saat aksi solidaritas di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Sabtu (13/5/2017). Aksi tersebut sebagai bentuk dukungan serta simpati untuk Ahok yang ditahan setelah divonis majelis hakim dengan hukuman dua tahun penjara karena dinilai terbukti melakukan penodaan agama. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Maulana Hafid masih bimbang menentukan pilihan dukungan terhadap dua pasang kandidat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2019. Berat baginya menyokong Joko Widodo-Ma’ruf Amin, tapi juga berat untuk mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Anak muda berusia 32 tahun ini adalah salah satu fans berat Basuki Tjahaja Purnama atau BTP, alias Ahok. Meski berdomisili di Kota Bekasi, Maulana mengidolakan eks Gubernur DKI Jakarta itu.

“Ahok mewakili kegeraman hati masyarakat terhadap birokrasi kompleks. Dia tegas terhadap anak buah,” ujarnya, ketika mengungkapkan kesannya terhadap Ahok kepada Bisnis, Selasa (22/1/2019).

Sewaktu Ahok kalah dari persidangan dengan tuduhan penistaan agama, Maulana sempat ikut menyalakan lilin di depan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang. Meski sang idola mendapat cap mantan narapidana, dia seolah tak ambil pusing.

Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama./ANTARA-Ubaidillah

“Yang jelas, Ahok korban. Banyak yang tidak suka dia menjalankan pemerintahan yang bersih," ucap Maulana.

Setelah ditahan sejak pertengahan 2017, sebentar lagi Ahok bebas. Merujuk kalender, BTP akan keluar dari sel di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok pada Kamis (24/1).

Hingga Selasa (22/1), penjagaan Mako Brimob masih normal. Gerbang depan Mako kini dipagari kawat berduri memanjang, keluar masuk kendaraan pun diperketat.

Peningkatan penjagaan tersebut diklaim dilakukan setelah adanya aksi teroris yang meletup di Mako Brimob beberapa waktu lalu.

“Jadi bukan karena Pak Ahok mau bebas penjagaan seperti ini,” kata Sugiyanto, Prajurit Detasemen Pelopor yang bertugas jaga.

Jelang pembebasan Ahok, kunjungan terhadapnya hanya dilakukan secara reguler oleh lingkaran keluarga.

“Belum ada dari siapa-siapa selain keluarga,” tuturnya.

Sebenarnya, Ahok bisa ditemui langsung di kamar sel. Untuk kunjungan khusus tersebut, harus sesuai izin atau permintaan dari pihak keluarga.

“Di sini, kami tidak melarang apapun kalau sudah ada izin atau permintaan dari dalam,” jelas Sugiyanto.

Bagi para pendukungnya, pembebasan Ahok merupakan kabar gembira. Sejauh ini, BTP belum memberikan sinyal apapun terkait dukungan ataupun rencana karir politik di luar nanti.

Yulianis, seorang perempuan yang berkarir di sebuah kantor hukum di bilangan Jakarta Selatan, juga salah seorang fans berat Ahok. Baginya, Pilpres 2019 sungguh dilematis karena kedua pasangan calon menggandeng sosok-sosok yang berkontribusi menjebloskan Ahok ke penjara.

“Sebenarnya bukan sekadar perkara di Jokowi ada Pak Ma’ruf, di Prabowo terdapat Sandiaga. Melainkan, kekecewaan bahwa politik kita masih didominasi isu agama dan unsur SARA lainnya,” terangnya.

Dengan gambaran politik seperti itu, Yulianis ikut bimbang hingga memilih pasif dalam ajang Pilpres 2019.

“Sebenarnya pilihan rasional tidak memilih sama sekali alias Golput, atau Jokowi,” lanjutnya.

Kedekatan dengan Jokowi
Para pecinta Ahok dinilai masih punya kedekatan dengan gerbong politik Jokowi. Meski ada Ma’ruf Amin yang bersanding dengan petahana, para pendukung “garis keras” Ahok terlalu sukar menembus tembok pembatas untuk menyeberang ke kubu Prabowo.

“Selain ada Sandiaga yang merupakan rival Ahok pada Pilgub DKI yang lalu, di gerbong Prabowo terdapat kelompok gerakan Islam yang ekstrem. Ini sebenarnya yang menghambat pendukung Ahok ke sana,” ungkap Akademisi Politik UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto.

Dia mencermati isu keberagaman, toleransi, serta pemerintahan yang bersih sebagai suara politik pendukung Ahok.

“Kecenderungan mereka untuk Golput atau Jokowi, itu saja,” ungkapnya.

Di sisi lain, suara mengambang dari penyokong Ahok masih cukup besar. Untuk ukuran DKI Jakarta, signifikansi suara itu mengacu pada perolehan suara saat Pilgub 2017, di mana pasangan Ahok-Djarot mengantongi 42% pemilih.

Belum lagi, lanjut Gun Gun, suara masyarakat di luar Jawa. Saat ini, Ahok merupakan simbol politik alternatif bagi masyarakat yang hidup di wilayah dengan basis nasionalis dan non Muslim.

“Wilayah itu mulai dari Bali hingga Papua, Ahok simbol mewakili,” terangnya.

Di sisi lain, momentum pembebasan Ahok harus dicermati kedua kubu. Pasalnya, arah politik tersebut akan menjadi bandul yang bisa digarap, baik oleh Jokowi maupun Prabowo.

“Jokowi bisa diserang, Prabowo bisa kehilangan suara dari momentum ini. Keduanya harus melihat kekuatan dan kelemahan atas dukungan Ahok,” tukas Gun Gun.

Lebih Tenang
Di sisi lain, Gun Gun menilai Ahok sekarang jauh lebih tenang. Buktinya, sewaktu publik menunggu arah angin politik yang akan membawanya setelah bebas, dia malah mengumbar rencana pernikahan.

“Dengan begitu, dia lebih memilih untuk menjauh terlebih dulu dari hiruk pikuk politik. Paling tidak sampai mendekati April,” tuturnya.

Karir politik seorang Basuki dimulai pada 2004. Saat itu, Ahok meloncat dari dunia bisnis ke politik dan terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur dari Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB), yang didirikan Almarhum Syahrir.

Setahun kemudian, Sarjana Teknik Geologi Universitas Trisakti maju sebagai Bupati Belitung Timur. Tidak sampai habis masa jabatannya, Ahok memilih bertarung di tingkat provinsi sebagai calon gubernur, khususnya karena ada dorongan dari Almarhum Gus Dur.

Namun, jalan politik itu kandas. Ahok kalah dalam pemilihan gubernur dan kemudian kembali maju sebagai anggota legislatif DPR RI periode 2009-2014.

Foto aerial umat Muslim mengikuti aksi 313 di Kawasan Patung Kuda Jakarta, Jumat (31/3/2017)./Antara-Wahyu Putro A

Karir politik yang melesat cepat itu membuat Ahok paham persoalan pelik di lingkaran kekuasaan: korupsi karena ketiadaan transparansi. Berstatus anggota legislatif, Ahok membuat berang sejawatnya karena melemparkan isu lingkungan tercemar limbah tambang di Belitung.

Sejak saat itu, dirinya dikenal sebagai salah satu elit politik yang bersuara nyaring terhadap pemberantasan korupsi. Pada 2012, dia dikawinkan dengan Jokowi untuk maju bersama dalam Pilkada DKI Jakarta.

Kemenangan Jokowi-Ahok membawa perubahan besar di ibu kota. Program populis seperti tunjangan pendidikan, penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL), hingga penanganan banjir dan pengelolaan anggaran yang serba digital, terus dilanjutkan Ahok sewaktu Jokowi pindah ke Istana Negara.

Jalan politik itu pun berakhir pada 2017. Majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Utara memutus Ahok bersalah atas tuduhan penistaan agama, yang diiringi dengan sejumlah gelombang aksi di Jakarta.

Kini, dia kembali bebas. Entah kebebasan itu hendak dibawa ke mana oleh Basuki.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ahok
Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top