Anies Baswedan: Kaum Terdidik Jangan Ragu Masuk Politik

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajak para akademisi dan alumni perguruan tinggi untuk berkiprak di panggung politik.
Bambang Supriyanto | 26 November 2018 10:14 WIB
Ilustrasi - Istimewa

Kabar24.com, JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajak para akademisi dan alumni perguruan tinggi untuk berkiprak di panggung politik.

Menurutnya, akademisi aktif di dunia politik dan menjadi pemimpin bukan hal baru karena negeri ini disusun oleh kaum terdidik dan dibangun oleh kaum cendekiawan. 

“Ini yang harus didorong kembali. Saya dosen, sekarang status diparkir,” ujarnya dalam seminar bertema Akademisi Memimpin Negeri yang diselenggarakan oleh Universitas BSI, Sabtu (24/11). 

Dia menjelaskan, kondisi yang aneh saat ini politikus menghadapi banyak rintangan dan tantangan, yakni ada politikus yang bermasalah tetapi tidak apa-apa. Sebaliknya, ada dosen yang masuk politik, malah dipermasalahkan. 

Padahal, sambungnya, politik sangat berperan dalam jangka panjang sehingga lingkungan terdidik tidak harus menjauhi politik. 

Dia pun menyayangkan sikap mahasiswa yang hendak lulus sangat alergi pada politik dan mengganggap bahwa politik itu kotor. 

“Saya tanya balik memang bisnis tidak kotor. Bedanya di bisnis tidak jadi berita besar. Beda dengan persaingan dua parpol yang menjadi berita besar,” tegasnya. 

Dia mencontohkan kehadirannya di panggung politik yang kini menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta. Salah satu kontribusinya, seperti membebaskan kembali jalur Thamrin untuk sepeda motor. Padahal, kebijakan itu sudah pasti menuai pro dan kontra. 

“Saya tidak sembarangan membolehkan motor lewat Thamrin tetapi berdasarkan data, yakni ada sebanyak 480.000 delivery seperti makanan dan minuman yang melalui Thamrin. Bayangkan kalau tidak boleh banyak usaha kecil yang terganggu.” 

Anies pun mengungkapkan soal kebijakan pemerintahan era Soekarno menggelar Konferensi Asia-Afrika pada 1955. Keputusan itu ditolak banyak pihak ketika itu dan menimbulkan pro dan kontra ketika Indonesia sebagai negara yang relatif  muda baru berusia 10 tahun menggelar konferensi besar. 

“Sejarah yang membuktikan keputusan itu benar atau tidak, dan ternyata Konferensi Asia Afrika memberikan motivasi bangsa Afrika untuk merdeka. Namun, kini Indonesia dianggap sebagai lokomotif bangsa-bangsa yang ingin lepas dari penjajahan,” tegasnya. 

Indracahya Uno, pembicara lainnya mengungkapkan bahwa dia sengaja masih berada di dunia bisnis sebagai pendorong adiknya, Sandiaga Uno yang kini terjun ke politik.

“Satu-satu saja, adik saya sudah di politik, saya tetap berada di bisnis. Saya justru mendukung dia dan mendorong saja dari belakang,” katanya.

Tag : perguruan tinggi
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top