Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Australia Pindahkan Kedutaan Besar ke Yerusalem?

Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyatakan bahwa Australia tengah mempertimbangkan memindahkan kedutaan besar mereka untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 16 Oktober 2018  |  09:13 WIB
PM Australia Scott Morrison - Reuters
PM Australia Scott Morrison - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyatakan bahwa Australia tengah mempertimbangkan memindahkan kedutaan besar mereka untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Morrison mengakui bahwa Australia mulai mempertimbangkan keputusan itu karena proses perdamaian antara Israel dan Palestina tak kunjung usai, terutama dalam isu perebutan Yerusalem sebagai ibu kota.

"Kami mendukung solusi dua negara, tapi sayangnya itu tak berjalan dengan baik, tak begitu banyak perkembangan, dan kalian tidak bisa melakukan hal yang sama terus menerus tapi mengharapkan hasil berbeda," ujar Morrison sebagaimana dikutip Theguardian.com, Selasa (16/10/2018).

Dia pun menganggap pertimbangan tersebut sangat "masuk akal" dan "persuasif" sehingga akan terus digodok oleh pemerintah. Dengan pertimbangan itu, Morrison ingin mencairkan anggapan bahwa pembicaraan mengenai pemindahan kedubes ke Yerusalem sebagai hal yang tabu.

"Hanya pemikirian kolot yang selalu menganggap perdebatan isu-isu seperti mempertanyakan ibu kota adalah hal tabu. Saya rasa kita harus melawan itu," kata Morrison.

PM dari Partai Liberal itu mengatakan bahwa usul pemindahan kedubes  sebenarnya adalah gagasan mantan Duta Besar Australia untuk Israel, Dave Sharma. Sharma sendiri akan bertarung dalam pemilihan umum parlemen di Sydney, daerah konstituen berpopoulasi mayoritas Yahudi dalam beberapa hari ke depan.

Pernyataan itu pun dianggap sebagai cara Morrison mendulang suara bagi partainya yang terancam kehilangan satu kursi di parlemen.

"Scott Morrison sekarang sangat tertekan untuk mempertahankan pekerjaannya. Dia siap mengatakan apa pun yang dapat membuatnya mendapatkan suara, meski harus mengorbankan kepentingan nasional Australia," kata juru bicara kebijakan luar negeri oposisi, Penny Wong.

Masa depan politik Morrison memang sedang di ujung tanduk. Popularitasnya langsung merosot setelah menggulingkan PM Australia sebelumnya yang dinilai lebih moderat, Malcolm Turnbull.

Selama menjabat, Turnbull selalu menolak keputusan Presiden Donald Trump yang memindahkan kedubes Amerika Serikat untuk Israel ke Yerusalem. Menurutnya, keputusan itu sama sekali tak membantu perdamaian.

Kini, Morrison pun menampik anggapan bahwa dia mempertimbangkan pemindahan kedubes itu berdasarkan keputusan Trump.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

australia Yerusalem
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top