China Akui Masalah Utang Bayangi "Belt and Road Initiative"

Wakil Menteri Keuangan China Zou Jiayi menyatakan Pemerintah China bakal memperkuat pengawasan detail terhadap aspek keberlanjutan utang untuk Belt and Road Initiative.
Dwi Nicken Tari | 13 Oktober 2018 15:01 WIB
Seorang pengunjung melewati panggung Belt and Road Summit di Hong Kong, pada 18 Mei 2016. - Reuters/Bobby Yip

Bisnis.com, NUSA DUA -- China mengakui bahwa megaproyek Belt and Road Initiative menuai kritik terkait utang. 
 
Wakil Menteri Keuangan China Zou Jiayi menyatakan Pemerintah China bakal memperkuat pengawasan detail terhadap aspek keberlanjutan utang untuk investasi proyek luar negeri besar-besaran yang diprakarsai oleh Presiden China Xi Jinping pada 2013 tersebut.
 
"Isu keberlanjutan utang untuk Belt and Road adalah isu yang rumit, tapi kami akan menanganinya," ujarnya dalam diskusi panel di sela-sela Annual Meeting IMF-WBG 2018, Nusa Dua, Bali, Sabtu (13/10/2018).
 
Megaproyek tersebut dimaksudkan untuk membangun kembali jalur sutra modern, menyatukan Asia, Eropa, dan Afrika dengan menyalurkan kredit senilai triliunan dolar AS untuk membangun infrastruktur seperti jalan, rel kereta, bandar udara, dan pelabuhan.
 
Namun, sejauh ini, inisiasi tersebut telah menimbulkan skeptimisme di beberapa negara, di antaranya Sri Lanka yang kesulitan membayar utang dan Malaysia yang menghentikan pengerjaan rel kereta senilai US$20 miliar.
 
Adapun Zou menyampaikan bahwa Pemerintah China menghargai keputusan Malaysia tersebut.
 
"Malaysia telah membicarakan dengan China, kami menghormati keputusan Malaysia yang berdasarkan pertimbangan analisis keberlanjutan utangnya," tuturnya.

Tag : china, annual meetings IMF-World Bank
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top