Jair Bolsonaro Ditantang Fernando Haddad dalam Putaran Kedua Pilpres Brasil

Meski berhasil meraih suara terbanyak dalam Pilpres Brasil 2019, tapi Jair Bolsonaro masih harus melewati Pilpres putaran kedua melawan Fernando Haddad. 
Annisa Margrit | 08 Oktober 2018 15:39 WIB
Kandidat presiden Brazil Jair Bolsonaro menyanyikan lagu kebangsaan Brazil dalam sebuah pertemuan membahas isu perempuan di Porto Alegre, Brazil, Kamis (30/8). - Reuters/Diego Vara

Bisnis.com, JAKARTA -- Meski berhasil meraih suara terbanyak dalam Pilpres Brasil 2019, tapi Jair Bolsonaro masih harus melewati Pilpres putaran kedua melawan Fernando Haddad. 
 
Bolsonaro mendapatkan 46,3% suara, sedangkan Haddad 29% suara dalam Pilpres yang berlangsung pada Minggu (7/10/2018). Tetapi, jumlah suara yang diperoleh Bolsonaro masih kurang untuk bisa mencapai mayoritas suara yang dibutuhkan untuk bisa menjadi presiden baru negara Amerika Latin itu.
 
Pilpres putaran kedua yang dijadwalkan digelar pada Minggu (28/10) akan menjadi pertarungan yang menarik karena Bolsonaro berasal dari sayap kanan, sedangkan Haddad berhaluan kiri. 
 
Popularitas Bolsonaro dan partainya, Social Liberal Party (PSL), meningkat pesat sebelum Pilpres setelah dia berjanji membongkar korupsi dan aksi kriminal lainnya yang terjadi di Brasil. Padahal, sebelumnya dia dan partainya tidak terlalu diperhitungkan. 
 
Bolsonaro, yang sebelumnya menjadi anggota Kongres dan mantan kapten di angkatan bersenjata Brasil, berkomitmen melonggarkan peredaran senjata dan memberikan kewenangan lebih bagi polisi untuk membunuh kriminal. Tahun lalu, tercatat ada 63.880 kematian akibat kekerasan di negara tersebut.
 
Pandangannya yang cenderung nasionalis membuatnya dipanggil sebagai "Tropical Trump" oleh sebagian pihak. 
 
"Ini adalah kemenangan hebat, mengingat kami tidak tampil di televisi, sebuah partai yang masih sangat kecil tanpa dana kampanye dan saya ada di rumah sakit selama 30 hari," papar Bolsonaro dalam video yang diunggah di media sosial, seperti dilansir Reuters, Senin (8/10).

Dia dirawat di rumah sakit setelah ditusuk ketika berkampanye. 
 
Bolsonaro mengatakan akan memangkas jumlah menteri menjadi 15 menteri, memotong pajak penghasilan, dan memprivatisasi atau menutup sejumlah perusahaan negara jika terpilih menjadi presiden. 
 
Sementara itu, Haddad meminta warga Brasil untuk bersatu dan memperingatkan bahwa konstitusi yang menjamin demokrasi negara itu sedang terancam. Dia mengaku sudah berbicara dengan tiga kandidat presiden lainnya untuk bersatu melawan Bolsonaro.
 
"Ada banyak risiko dalam Pilpres ini. Kami ingin menyatukan semua demokrat di Brasil," tegas Haddad.
 
Profesor di universitas negeri Rio de Janeiro, Mauricio Santoro, menilai kedua pihak mesti merangkul poros tengah untuk bisa menang dalam Pilpres putaran kedua.
 
"Haddad mesti menjaga jarak dengan Lula [mantan Presiden Brasil Luis Inacio Lula da Silva] dan segera memilih menteri keuangan yang ramah dengan pasar. Bolsonaro harus meninggalkan ujaran kebencian yang sering digunakannya dan meluruskan kontradiksi di antara para pembantunya," terangnya.
 
Lula divonis melakukan korupsi dan dipenjara selama 12 tahun, sehingga dia terpaksa melepaskan keinginannya untuk mencalonkan diri lagi sebagai presiden. Lula adalah salah satu pendiri Workers Party (Partai Buruh), partai yang mengusung Haddad.

Secara keseluruhan, Pilpres Brasil kali ini diikuti 13 kandidat. Selain Bolsonaro dan Haddad, kandidat lainnya adalah Ciro Gomes, Geraldo Alckmin, Joao Amoedo, Cabo Daciolo,  Henrique Meirelles, Marina Silva, Alvaro Dias, Guilherme Boulos, Vera, Eymael, dan Joao Goulart Filho.

Sumber : Reuters

Tag : brasil
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top