Tak Hanya Buku, Kayu Pun Punya Perpustakaan yang Bisa Dikunjungi

Mungkin tak banyak yang tahu, selain perpustakaan berisi buku-buku, Indonesia juga memiliki perpustakaan yang berisikan koleksi ratusan ribu sampel kayu.
Juli Etha Ramaida Manalu | 20 September 2018 03:32 WIB
Pola yang terlihat pada hasil pembesaran permukaan fosil kayu koleksi Xylarium Bogoriense. - Bisnis.com/Juli Etha R. Manalu

Bisnis.com, JAKARTA – Mungkin tak banyak yang tahu, selain perpustakaan berisi buku-buku, Indonesia juga memiliki perpustakaan yang berisikan koleksi ratusan ribu sampel kayu.

Perpustakaan kayu atau yang disebut Xylarium Bogoriense ini berlokasi di Bogor, Jawa Barat, tak jauh dari Stasiun Bogor, tepatnya di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan milik Kementyerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Hal pertama yang begitu terasa ketika memasuki Xylarium adalah aroma kayu yang kuat dan menenangkan.

Dengan berkunjung ke Xylarium Bogoriense yang dibangun pada masa kolonial Belanda tepatnya pada 1914 ini, kita bisa mengenal jenis-jenis kayu tanpa harus keliling Indonesia. Perpustakaan kayu ini dikelola oleh Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK.

                                                   Koleksi kayu Xylarium tersimpan rapi dalam laci. - Bisnis.com/Juli Etha R. Manalu

"Selain sebagai wujud pendokumentasian jenis kayu, Xylarium juga bermanfaat sebagai bahan rujukan utama dalam identifikasi kayu, karena memiliki informasi ilmiah seperti nama lokal, nama ilmiah, keragaman jenis, dan persebaran jenis kayu," tutur Dwi Sudharto, Kepala Pusat Litbang Hasil Hutan BLI KLHK.

Xylarium Bogoriense sedang melakukan identifikasi ribuan jenis kayu yang masuk dari berbagai penjuru wilayah di Indonesia.

Hingga awal tahun ini, Xylarium hanya memiliki sekitar 40.000-an koleksi sampel kayu. Namun, KLHK berupaya meningkatkan koleksi sampel tersebut demi kebutuhan identifikasi kayu untuk tujuan yang lebih besar lagi nantinya seperti kemungkinan ditemukannya jenis kayu yang belum diketahui manfaatnya selama ini, agar bisa dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya pada masa mendatang.

Pada Juli 2018, koleksi sampel kayu Xylarium meningkat menjadi 67.864 spesimen. Jumlah ini membawa Xylarium ke peringkat keempat perpustakaan kayu dengan koleksi terbanyak setelah Belanda dengan 125.000 spesimen, lalu Amerika Serikat dengan 105.000 spesimen, dan Belgia 69.000 spesimen.

Dalam rangka mewujudkan Xylarium menjadi  nomor satu dunia, dengan jumlah spesimen terbesar, KLHK menggandeng sejumlah pihak antara lain Kemenristekdikti, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), perguruan tinggi, industri perkayuan, pemerintah provinsi, serta masyarakat hingga memiliki koleksi sampel 185.647 spesimen hingga pekan kedua September 2018.

Sampel-sampel kayu yang ada di Xylarium ini dirawat secara khusus agar tetap bisa disimpan dalam waktu lama dan tidak mengalami pelapukan.

Capaian ini pun akan secara resmi dideklarasikan oleh Menteri LHK di Yogyakarta pada akhir bulan ini dan direncanakan dihadiri Presiden Joko Widodo.

Bagi para pengunjung yang hendak melihat koleksinya, Xylarium bisa dikunjungi pada hari dan jam kerja tanpa dipungut biaya.

Selain koleksi sampel kayu, KLHK juga tengah berusaha mengumpulkan koleksi bambu.

Di Xylarium juga ada koleksi fosil kayu, yakni kayu yang diperkirakan berusia jutaan tahun dan telah membatu akibat proses sedimentasi.

Meski telah berubah menjadi batu, tak lantas membuat kayu ini kehilangan sel-sel unik yang bisa membantu peneliti mengenali jenisnya. Sel-sel yang membentuk pola khusus ini pun masih bisa dilihat menggunakan lup atau kaca pembesar.

Tag : kayu, perpustakaan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top