AS Pangkas Bantuan ke Palestina Senilai US$200 Juta

Di tengah memburuknya hubungan dengan Palestina, AS memutuskan untuk memotong sedikitnya US$200 juta dana bantuan kepada negara Timur Tengah itu dan mengalihkannya untuk proyek prioritas AS lainnya.
Irene Agustine & Muhammad Khadafi | 25 Agustus 2018 11:44 WIB
Warga Palestina menonton televisi menyiarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpidato di mana dia diharapkan mengumumkan bahwa AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, di Kota Tua Yerusalem, Rabu (6/12/2017). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Di tengah memburuknya hubungan dengan Palestina, AS memutuskan untuk memotong sedikitnya US$200 juta dana bantuan kepada negara Timur Tengah itu dan mengalihkannya untuk proyek prioritas AS lainnya.

Pejabat Senior Kementerian Luar Negeri AS yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan awalnya dana terebut diarahkan untuk program bantuan di Tepi Barat dan Gaza, dua wilayah yang diketahui menjadi daerah konflik.

“Kami telah melakukan evaluasi bantuan AS untuk otoritas Palestina di Tepi Barat serta Gaza untuk memastikan dana tersebut dihabiskan sesuai dengan kepentingan nasional AS dan memberikan nilai lebih kepada para pembayar pajak AS,” ujarnya seperti dilansir Reuters, Sabtu (25/8/2018).

Pengumuman itu muncul pada saat kepemimpinan Palestina memboikot keputusan AS yang menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Status Yerusalem, rumah bagi situs-situs suci bagi agama Islam, Yahudi, dan Kristen, adalah salah satu hambatan terbesar bagi perjanjian damai antara Israel dan Palestina.

Palestina mengklaim Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara. Di sisi lain, Israel menyatakan Yerusalem adalah ibu kotanya yang abadi dan tak terpisahkan.

Menantu dan penasehat senior Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, memimpin upaya untuk membuat rencana perdamaian dalam upaya memulai kembali negosiasi antara Israel dan Palestina untuk mengakhiri konflik yang sudah berlangsung selama beberapa dekade. Namun, keputusan tentang kapan inisiatif ini akan diluncurkan masih belum dilakukan.

Kebijakan ini diperkirakan memperburuk situasi kemanusiaan yang mengerikan di Gaza. Lebih dari 2 juta orang Palestina berada di Jalur Gaza dan dalam kondisi ekonomi yang sangat buruk.

Tag : amerika serikat, palestina
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top