Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

MPR Soroti 3 Tantangan Ekonomi Ke Depan

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menyoroti tiga tantangan ekonomi Indonesia ke depan. Hal ini harus disiasati dengan terobisan kebijakan oleh pemerintah.
Hadijah Alaydrus & Muhammad Azka
Hadijah Alaydrus & Muhammad Azka - Bisnis.com 16 Agustus 2018  |  10:22 WIB
Suasana Sidang Tahunan MPR 2018 di Gedung DPR/MPR, Kamis (16/8). - JIBI/Felix Djody
Suasana Sidang Tahunan MPR 2018 di Gedung DPR/MPR, Kamis (16/8). - JIBI/Felix Djody

Bisnis.com, JAKARTA - Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menyoroti tiga tantangan ekonomi Indonesia ke depan. Hal ini harus disiasati dengan terobisan kebijakan oleh pemerintah.

Ketua MPR RI, Zulkufli Hasan, mengungkapkan terdapat tiga tantangan perekonomian nasional yang membutuhkan terobosan kebijakan dari Pemerintah.

"Pertama adalah masalah kesenjangan ekonomi. Kami mensyukuri penurunan Gini ratio yang dicapai oleh pemerintah dari sekitar 0.41 menjadi 0.39 saat ini," jelasnya saat membuka Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2018, di Gedung MPR-DPR RI, Kamis (16/8/2018).

Menurutnya, ini terjadi akibat turunnya pendapatan masyarakat kelas atas ketimbang naiknya pendapatan masyarakat kelas bawah. Dengan demikian, perlu diperhatikan adalah golongan miskin dan hampir miskin masih sangat besar jumlahnya.

Golongan ini lanjutnya sangat rentan terhadap perubahan harga. Oleh karenanya, dia meminta pemerintah menjaga harga-harga barang kebutuhan rumah tangga agar daya beli mereka tidak tergerus. 

"Kedua, adalah masalah stabilitas dan defisit transaksi berjalan. Pemberdayaan ekonomi kecil dan mikro perlu terus dikembangkan, diantaranya melalui fasilitas kredit, fasilitas produksi dan pasar, termasuk bantuan pemasaran dan teknologi agar mereka tumbuh dan berkembang," paparnya.

Lebih lanjut jelasnya, kesempatan berusaha dari kebijakan perluasan pembangunan infrastruktur harus didistribusikan secara luas ke daerah melalui usaha swasta besar, menengah, dan kecil.Ketiga terkait pengelolaan utang negara, menurutnya, negara harus menjaga stabilitas ekonomi dan mencegah krisis sejak dini. Ini menjadi penting dalam kerangka menjaga ketahanan ekonomi.

"Kita perlu melakukan pengetatan prediksi-prediksi perekonomian secara cermat, terukur, dan akuntabel, diantaranya mengenai nilai tukar rupiah dalam perekonomian global, penguatan-penguatan di sektor industri, pembatasan arus impor, serta peningkatan daya saing komoditas dan peningkatan daya ekspor kita," paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi
Editor : Fajar Sidik
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top