Pengamat : Publik Disibukkan Cawapres Jokowi, Bukan Program yang Ditawarkan

Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing mengatakan wacana publik yang berkembang terkait calon wakil presiden untuk Jokowi hanya sebatas pada sosok, bukan program yang ditawarkan.
Rayful Mudassir | 14 Juli 2018 13:35 WIB
Presiden Joko Widodo (keempat kanan) menerima Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman (kelima kiri) beserta komisioner KPU di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (11/7/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA – Pakar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing mengatakan wacana publik yang berkembang terkait calon wakil presiden untuk Jokowi hanya sebatas pada sosok, bukan program yang ditawarkan.

Kondisi ini menurut Emrus, menunjukkan sistem diplomatik yang ada di Indonesia masih belum cukup mapan. Ditambah lagi ideologi Pancasila beum terlalu mengakar di masyarakat.

“Kalau sudah mengakar pasti tidak akan yang melihat dari siapa yang menjadi pendamping Jokowi. Akan tetapi saat ini publik masih disibukkan dengan isu siapa yang menjadi pendamping Jokowi,” kata Emrus Sihombing dalam sebuah diskusi di bilangan Cikini, Jakarta, Sabtu (14/7/2018).

Dia menerangkan, seharusnya masyarakat harus lebih fokus pada program-program yang ditawarkan oleh seluruh calon wakil presiden yang memiliki peluang untuk mendukung Jokowi.

Jika terus dibiarkan, kondisi ini dikhawatirkan dapat meringankan calon pendamping presiden untuk melepaskan diri dari janji politik saat terpilih sebagai wakil presiden 2019 – 2024.

Selain itu, publik juga disibukkan dengan berbagai persoalan menyangkut presiden Jokowi seperti anti Islam, komunis dan pro China. Sikap ini menurutnya tidak ditemukan di negara belahan dunia manapun.

Saat ini kata Emrus, elektabilitas Jokowi belum aman karena berada di bawah 50% pemilih.

Selain itu Jokowi membutuhkan calon wakil presiden yang dapat membendung seluruh isu yang ditujukan kepadanya. Terlebih lagi jika terpilih kembali, pendamping Jokowi diprediksi bakal maju pada Pemilu 2024.

Sedangkan Jokowi tidak dapat berkontestasi karena sudah naik dua periode sebagai presiden.

Tag : cawapres Jokowi
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top