Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Teladan Anwar Ibrahim, Perjuangan dari Balik Jeruji

Wajahnya terlihat kaku, lalu pria tua itu mengatakan, "Anwar, saya pikir kita harus bekerja sama karena pemerintahan saat ini sudah sangat rusak, dan kita harus membantu membangun ulang negeri ini," begitu ungkap Mahathir Mohammad saat mengunjungi Anwar Ibrahim yang tengah berada di balik jeruji besi di akhir 2016.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 04 Juli 2018  |  21:05 WIB
Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim berbicara dalam The Executive Center for Global Leadership (ECGL) Leadership Forum di Jakarta, Rabu (4/7/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim berbicara dalam The Executive Center for Global Leadership (ECGL) Leadership Forum di Jakarta, Rabu (4/7/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Bisnis.com, JAKARTA - Wajahnya terlihat kaku, lalu pria tua itu mengatakan, "Anwar, saya pikir kita harus bekerja sama karena pemerintahan saat ini sudah sangat rusak, dan kita harus membantu membangun ulang negeri ini," begitu ungkap Mahathir Mohammad saat mengunjungi Anwar Ibrahim yang tengah berada di balik jeruji besi di akhir 2016.
 
Kedatangan musuh lama ini, tentu saja membuat seorang Anwar Ibrahim merasa kaget. Namun, begitu mendengar apa yang disampaikan, hatinya langsung hancur, sehancur-hancurnya.
 
Pria yang telah menjebloskan Anwar ke penjara dan menjadikan hidupnya begitu dipermalukan karena tuduhan kotor korupsi dan asusila datang dan mengajaknya bekerja sama memperbaiki kondisi negeri.
 
"Anda bisa bayangkan, hati saya hancur, tapi saya tetap memasang senyum dan mengatakan ya Tuan Mahathir, terima kasih sudah datang, saya memikirkan tentang itu. Tapi dalam hati saya berteriak untuk apa orang ini ke sini," ungkap Anwar Ibrahim saat menjadi pembicara dalam agenda Executive Center for Global Leadership(ECGL) Forum, diikuti tawa peserta yang hadir di Hotel Freemont, Jakarta Selatan, Rabu (4/7/2018).
 
Anak-anaknya menangis dan tidak menerima bagaimana perlakuan Mahathir dan permusuhan yang sudah berjalan selama lebih dari 20 tahun. Mereka menuntut setidaknya ada permintaan maaf yang keluar dari bibir PM terlama Malaysia tersebut.
 
Anwar melanjutkan ceritanya, dia menenangkan anak-anaknya dan mengingatkan Mahathir sudah mengakui kesalahannya. Mahathir sudah menyesali peristiwa yang membuat Anwar dipenjara.
 
"Mahathir mengatakan saya tidak sepatutnya memecat Anda pada saat itu. Bagi saya hal itu sudah cukup untuk saya memaafkannya," imbuhnya yang diiring tepuk tangan peserta yang hadir.
 
Setelah itu, Mahathir juga mengungkapkan dia mendukung gerakan reformasi yang dilaksanakan oleh Anwar. Sejak itu, mereka bekerja sama membentuk koalisi politik pemberontakan menghadapi pemerintahan Najib Razak.
 
Anwar Ibrahim adalah bekas Wakil Perdana Menteri Malaysia yang diberhentikan pada 1999 karena tuduhan tindak asusila dan korupsi di era kepemimpinan Perdana Menteri (PM) Mahathir Mohammad. 
 
Dia dihadapkan pada persidangan yang kontroversial dan divonis hukuman enam tahun penjara untuk tuduhan korupsi. Setahun kemudian mendapatkan tambahan vonis sembilan tahun penjara untuk tuduhan sodomi. 
 
Lalu, Mahkamah Federal Malaysia kemudian membatalkan tuduhan sodomi dan Anwar dibebaskan dari penjara pada 2004. Dia pun kembali terjun ke dunia politik menjadi anggota legislatif.
 
Dia bersuara keras menentang kebijakan-kebijakan yang dilakukan PM Najib Razak. Dia bahkan menjadi yang pertama mempertanyakan kasus 1Malaysia Development Berhad (1MDB).
 
Lalu, Juli 2008 ia kembali ditangkap dan dipenjarakan dengan tuduhan sodomi terhadap seorang asisten pribadinya. Namun, dia keluar sehari setelahnya dengan membayar uang jaminan.
 
Pernah menjadi seorang bintang di partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), Anwar dipandang sebagai ancaman terbesar bagi PM Najib Razak dan koalisinya, setelah Anwar memimpin aliansi oposisi tiga partai untuk mendapatkan keuntungan pemilu yang menakjubkan pada 2013.
 
Kasus kontroversial ini berlanjut, akhirnya 10 februari 2015, ia divonis hukuman 6 tahun penjara. "Saat itu saya mengatakan kepada juri, saya memiliki sakit tulang punggung akibat dipukuli polisi tapi setidaknya saya masih memiliki tulang punggung tidak seperti kalian," ungkapnya menahan emosi.
 
Ini menandakan bagaimana dia merasa peradilan yang dia alami tidak berjalan dengan bebas dan adil.
 
Dia bercerita kehidupannya di penjara tidaklah mudah, saat minggu-minggu awal berada di penjara Anwar harus tidur di atas lantai semen yang dingin. Dia pun begitu tersiksa karena harus jauh dari keluarga dan tidak dapat untuk sekedar memeluk cucunya. 
 
Lalu, dari dalam penjara dia melanjutkan perjuangan untuk mengalahkan partai UMNO sebagai partai penguasa. Perjuangannya diakhiri dengan kejatuhan Najib Razak pada pemilihan 2018 dan Mahathir Mohammad menjadi Perdana Menteri terpilih.
 
Dia pun dibebaskan dari penjara pada pertengahan Mei lalu, setelah dipenjara selam 3,5 tahun. Anwar dibebaskan setelah Yang Dipertuan Agung Muhamman V memberikan pengampunan penuh.
 
Kini, pria yang sudah ditunjuk sebagai suksesor PM Mahathir Mohammad ini fokus pada penyembuhan kesehatannya dan membina persaudaraan dengan teman-temannya, salah satunya yang berada di Indonesia.
 
Bagi Anwar, kasus yang menimpanya merupakan contoh kasus mengenai keadilan dan keseimbangan yang sesungguhnya. Dimana setiap bentuk kepemimpinan selalu memiliki dimensi penyelewengan tapi dengan menerapkan prinsip keadilan dan keseimbangan dalam segala hal, kepemimpinan menjadi alat untuk kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan ekonomi.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anwar ibrahim mahathir mohamad
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top