IEA : Permintaan Gas Global Akan Terus Meningkat

Industri gas alam saat ini diperkirakan dapat tumbuh tajam didorong oleh produksi berbiaya rendah dari AS dan meningkatnya permintaan dari Asia. Namun, untuk modalnya, industri gas perlu menginvestasikan miliaran dolar AS untuk infrastruktur LNG yang baru.
Dwi Nicken Tari | 28 Juni 2018 19:00 WIB
Liquefied Natural Gas (LNG). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Industri gas alam saat ini diperkirakan dapat tumbuh tajam didorong oleh produksi berbiaya rendah dari AS dan meningkatnya permintaan dari Asia.

Namun, untuk modalnya, industri gas perlu menginvestasikan miliaran dolar AS untuk infrastruktur LNG yang baru.

Hal itu disebutkan di dalam laporan International Energy Agency (IEA) yang memperkirakan permintaan gas global akan tumbuh rata-rata 1,6% per tahun dalam lima tahun ke depan, dengan China sebagai pionirnya.

Secara jangka panjang, IEA menyatakan pasar gas global akan menghadapi tantangan dan persaingan biaya di pasar negara berkembang.

Laporan IEA yang dirilis pada Selasa (26/6/2018) tersebut menunjukkan, industri gas diharapkan mampu menanggulangi masalah bocornya gas metana (salah satu gas yang memicu efek rumah kaca).

Adapun gas secara luas dipandang sebagai bahan bakal fosil terbersih karena membakar lebih efektif ketimbang minyak maupun batu bara. Namun, gas juga dapat habis di dalam produksi dan transportasi.

Di sisi lain, perselisihan dagang antara Amerika Serikat dan China dapat membuat segalanya menjadi rumit dalam jangka menengah.

Beijing pada bulan ini mengajukan tarif balasan untuk impor petroleum dari AS. Hal itu diperkirakan dapat memukul industri migas AS.

Pemimpin dari dua perusahaan energi terbesar di dunia juga menyatakan kekhawatiran mereka terhadap tensi perdagangan yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global, khususnya memukul permintaan komoditas energi.

“Risiko perang dagang mulai membebani persepsi orang terhadap pertumbuhan ekonomi di masa depan,” kata CEO Chevron Mike Wirth di dalam World Gas Conference 2018, seperti dikutip Reuters, Kamis (28/6/2018).

Dia menambahkan, masalah tensi AS dan China dapat membawa risiko yang mengganggu pertumbuhan ekonomi global.

Selain itu, CEO Exxon Mobil Darren Woods menyampaikan perusahaannya berusaha menjaga “suara tenang” di sekitar tarif, namun tentu saja menurutnya proteksionisme dapat merusak investasi.

“Dunia telah sangat baik dilayani oleh tarif rendah dan perdagangan bebas. Dengan tarif, terdapat risiko yang membuat proyek menjadi kurang menarik,” tuturnya.

Secara jangka panjang, IEA menyebutkan, pasar gas global juga dapat mendapat tantangan dari berkurangnya persaingan biaya di pasar emerging market dan keborocan gas metana.

World Gas Conference 2018 di Washington DC dihadiri oleh pejabat eksekutif raksasa energi global, seperti Exxon Mobil Corp., BP Plc., dan Total bersama pejabat senior dari Departemen Luar Negeri AS dan biro energi, serta sejumlah menteri energi dari produsen dan konsumen migas seperti Argentina dan Indonesia. (reuters/Dwi Nicken Tari)

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gas, lng, iea

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top