Afghanistan Sudah Lelah Berperang

Ratusan demonstran aksi damai tiba di ibukota Kabul dengan kondisi kelelahan pada Senin (18/6/2018), setelah menghabiskan sebulan penuh selama Ramadan melintasi negeri gurun yang dilanda perang tersebut.
Nirmala Aninda | 18 Juni 2018 16:42 WIB
Helikopter Black Hawk AS di Afghanistan - Reuters/Erik De Castro

Bisnis.com, KABUL -- Ratusan demonstran aksi damai tiba di ibukota Kabul dengan kondisi kelelahan pada Senin (18/6/2018), setelah menghabiskan sebulan penuh selama Ramadan melintasi negeri gurun yang dilanda perang tersebut.

Para demonstran yang seluruhnya pria terdiri dari guru, siswa, korban perang yang harus menggunakan tongkat dan kursi roda, disambut oleh para wanita yang berbaris di sepanjang jalan sambil membawa Al-Quran.

Sementara para pria menyambut mereka dengan tarian dan nyanyian, ada pula yang menawarkan roti dan yoghurt, beberapa dari mereka bahkan menangis.

“Saya melihat dan mempelajari hal-hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya,” kata Iqbal Khayber, 27 tahun, seorang mahasiswa kedokteran dari Helmand, dikutip melalui Reuters.

"Kami bertemu orang-orang di daerah yang dikuasai oleh Taliban dan di daerah-daerah di bawah kendali pemerintah - semua orang benar-benar lelah berperang."

Pawai itu dipicu oleh sebuah bom mobil yang meledak Helmand pada 23 Maret dan menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai puluhan lainnya. Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan tersebut.

Khayber mengatakan jumlah para demonstran berubah setiap harinya. Mereka berjalan melalui jalan utama dan beberapa kali berhenti di sejumlah desa.

Mereka sengaja memilih lokasi yang berbahaya dengan tujuan untuk mencoba memahami ketakutan orang-orang yang tinggal di sana.

"Kami melihat orang-orang sangat menderita akibat perang ... Jujur, hati nurani tidak tenang. Itu menyakitkan saya dan saya bertanya pada diri saya sendiri: mengapa kami tidak berusaha untuk mencapai perdamaian sebelumnya?”

Sebelum Ramadan para demonstran berjalan sejauh 30km - 35km per hari, namun selama bulan puasa, ketika mereka tidak dapat makan atau minum, jaraknya disesuaikan menjadi 20km - 25km per hari.

Di satu daerah di provinsi Ghazni, mereka diberitahu oleh Taliban untuk tidak memasuki lokasi tersebut karena terlalu berbahaya.

“Kami bertemu pejuang Taliban dan setelah berkenalan, mereka memberi tahu kami bahwa kami seharusnya tidak datang ke sini karena wilayah itu ditanami bom dan mereka telah merencanakan serangan," ujar Khayber.

“Setelah beberapa menit berdiskusi dengan mereka, mereka tampak lelah dengan semuanya dan perang. Mereka mengarahkan kita kembali ke area aman.”

Kantor Gubernur melaporkan bahwa Taliban telah menyandera 6 tentara di Ghazni pada Minggu (17/6/2018). Namun Taliban membantah tuduhan itu dan mengatakan 6 orang tersebut adalah pembelot.

Mohammad Yasin Omid, 24, seorang guru dari provinsi Zabul, mengatakan dia bergabung dalam pawai pada hari ke-21.

“Kelompok itu sudah berjalan selama 15 hari. Ketika saya melihat kaki mereka yang berdarah dan melepuh, saya tidak dapat mengendalikan air mata saya sehingga saya memutuskan untuk bergabung dengan mereka."

Taliban berjuang untuk mengusir pasukan asing, mengalahkan pemerintah yang didukung AS dan memulihkan syariah setelah pengusiran mereka oleh pasukan yang dipimpin AS pada tahun 2001.

Namun faktanya Afghanistan telah berperang selama empat dekade, sejak invasi Soviet pada 1979.

Pemerintah dan militan menyatakan gencatan senjata sementara untuk liburan Idulfitri pada akhir Ramadhan.

Sejumlah foto memperlihatkan mereka saling berpelukan dan berswafoto ketika militan keluar dari persembunyian mereka untuk memasuki kota.

Gencatan senjata Taliban berakhir pada hari Minggu namun Pemerintah memperpanjang gencatan senjata dengan Taliban sampai dengan Rabu (20/6/2018) atau menjadi sepanjang 10 hari.

Para demonstran anti perang mengatakan bahwa mereka tidak akan berhenti di Kabul.

"Kami menerima dukungan dari orang-orang di Kabul seperti yang kami harapkan," kata anggota pawai Badshah Khan.

"Sekarang kita akan duduk-duduk di tenda dan terus berjalan ke provinsi lain untuk mendapatkan lebih banyak dukungan."

Tag : afghanistan
Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top