Korea Utara Takkan Pernah Menyerah atas Program Nuklirnya?

Meskipun Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un belum menyerah atas satupun senjata nuklirnya tetapi hal ini tak menghalangi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meyakinkan rakyat Amerika agar tetap tenang.
Juli Etha Ramaida Manalu | 14 Juni 2018 13:19 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Hotel Capella, Pulau Sentosa, Singapura, 12 Juni 2018. - Reuters

Kabar24.com, MEDAN - Meskipun Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un belum menyerah atas satupun senjata nuklirnya tetapi hal ini tak menghalangi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meyakinkan rakyat Amerika agar tetap tenang.

Melalui akun Twitter dia meyakinkan agar rakyar Amerika bisa tidur nyenyak karena ancaman nuklir Korea Utara telah berlalu.

Seperti dilansir Bloomberg, Kamis (14/6/2018), strategi publik tersebut membuat sejumlah analis percaya bahwa Trump mungkin saja bersedia untuk berdampingan dengan negara bersenjata nuklir, Korea Utara, sama seperti Amerika belajar untuk berdampingan dengan negara nuklir lainnya, seperti Pakistan dan India.

Direktur East-Asia Non-Proliferation Program dari Middlebury Institute for International Studies, Monterey, California Jeffery Lewis mengatakan terlepas dari diskusi alot yang berlangsung sebelum pertemuan di Singapura terkait dengan denuklirisasi secara menyeluruh dan terverifikasi, dokumen sepanjang satu setengah halaman yang ditandatangani oleh Trump dan Jong-un tidak memuat bahasa atau hal yang merepresentasikan persetujuan atas program nuklir Korea Utara.

“Saya rasa ini bukan akhir dunia karena ini adalah dunia yang telah kita tempati. Yang mengkhawatirkan saya adalah Presiden terus menjanjikan bahwa Kim akan menyerah akan senjatanya nuklirnya. Jika suatu hari dia bangun dan menyadari apa yang sebenarnya terjadi, dia bisa ‘meledak’ dan kita akan berada dalam masalah besar,” katanya seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (14/6/2018).

Bahkan, Foundation for Defense of Democracies (Yayasan Ketahanan Demokrasi), sebuah kelompok riset kebijakan yang berbasis di Washington dan biasanya mendukung kebijakan luar negeri Trump, menunjukkan keberatannya.

“Tidak gampang untuk mengevaluasi apakan pernyataan bersama Trump dan Kim merupakan sebuah langkah kecil menuju denuklirisasi terverifikasi, atau malah sebaliknya merupakan sinyal bahwa Pemerintahan Trump akan menerima hasil berbeda,” katanya.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo  dengan marah menepis kekhawatiran tersebut. Dia mengatakan bahwa bahasa yang digunakan dalam perjanjian tersebut mencakup tuntutan dari Amerika Serikat kendati tidak secara gamblang tertulis di dalamnya. Dia juga memprediksi kemajuan signifikan denuklirisasi akan terlihat pada 2021.

“Saya kira kita bisa memperdebatkannya secara semantik, tapi izinkan saya meyakinkan anda bahwa hal tersebut ada dalam dokumen,” kata Pompeo.

Trump sendiri juga bisa dengan cepat mengubah pendekatannya jika menurutnya tidak terlihat kemajuan yang berarti. Tak sampai setahun sebelum pertemuan bersejarah keduanya, Trump mengancam Korea Utara dengan api dan kemrahan dan secara menyebut Kim sebagai Pria Roket Kecil di depan umum.

Dalam pertemuan bersejarah  mereka, Kim membuat beberapa konsesi di luar persetujuan untuk melakukan denuklirisasi menyeluruh di Semenanjung Korea. Persetujuan tersebut tidak memuat waktu yang diberikan untuk menyingkirkan 60 bom nuklir dan sejumlah rudal, termasuk beberapa senjata yang disebut bisa menyerang wilayah Amerika.

Pompeo mengatakan dirinya akan menuntaskan terkait dengan detail kesepakatan itu dalam beberapa minggu mendatang bersama pihak Korea Utara. Namun, Korea Utara tampaknya lebih berhaap untuk bisa mengembangkannya terlebih dahulu dan kemudian membiarkan proses diskusi panjang tanpa hasil dilakukan kemudian.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
nuklir, korea utara, kim jong un, Donald Trump

Editor : Maria Yuliana Benyamin

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top