Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Friksi Dagang dengan AS, Kanada Dapatkan Dukungan dari Negara Sahabat

Hubungan Amerika Serikat dan Kanada semakin meruncing menuju krisis diplomatik dan perdagangan. Pasalnya, penasihat Gedung Putih mengecam PM Kanada Justin Trudeau sehari setelah Presiden AS Donald Trump menyebutnya sangat tidak jujur dan lemah.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 11 Juni 2018  |  15:55 WIB
Bagikan

Kabar24.com, JAKARTA – Hubungan Amerika Serikat dan Kanada semakin meruncing menuju krisis diplomatik dan perdagangan. Pasalnya, penasihat Gedung Putih mengecam PM Kanada Justin Trudeau sehari setelah Presiden AS Donald Trump menyebutnya “sangat tidak jujur dan lemah”.

“Kanada tidak melakukan diplomasi lewat serangan ad hominem [tertuju pada pribadi atau karakter seseorang], dan kami menahan diri dari serangan ad hominem yang datang dari mitra terdekat,” kata Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland, seperti dikutip Reuters, Senin (11/6).

Freeland menegaskan, Kanada tetap bakal membalas tarif yang dikenakan AS dengan segala perhitungan resiprokal. Dia juga menambahkan, negerinya selalu membuka pintu untuk perundingan.

Adapun, Trump di Singapura pada Senin (11/6) semakin meningkatkan ‘perang kata-kata’-nya dengan Kanada dan Uni Eropa lewat akun Twitter.

“Perdagangan Adil kini disebut Perdagangan Bodoh jika tidak resiprokal”, tulis Trump dan menyebut Kanada mengambil untung dari perdagangan dengan AS.  Dia menambahkan dengan menyebut tindakan PM Trudeau di dalam konferensi pers-nya sangat menyakitkan.

Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menuduh Trudeau mengkhianati Trump dengan mempolarisasi pernyataan terhadap kebijakan perdagangan. Pasalnya, hal itu dikhawatirkan berisiko membuat Presiden AS tampak lemah menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) dengan Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un di Singapura pada 12 Juni 2018.

“[Trudeau] seakan menusuk kami dari belakang,” kata Kudlow, Direktur Dewan Ekonomi Nasional, yang mendampingi Trump di KTT G7 di Quebec, Kanada.

Selain itu, Penasihat Perdagangan AS Peter Navarro menyebut ada tempat khusus di negara bagi pemimpin mana pun yang memperburuk diplomasi dengan Trump.

Adapun, Trudeau di Quebec City yang menghadiri pertemuan bilateral dengan pemimpin negara non-G7 setelah KTT G7 tidak memberikan respons. Sejauh ini, dia juga telah mendapatkan dukungan personal langsung dari pemimpin-pemimpin Uni Eropa.

Seorang pejabat senior Pemerintahan Britania Raya menyebutkan, PM Inggris Theresa May “sangat mendukung” Trudeau dan kepemimpinannya. Dukungan juga datang dari Presiden Komisi Eropa Donald Tusk.

Merespons dukungan dari negara sahabat, Freeland menyatakan bahwa posisi mitra-mitra tersebut, seperti Uni Eropa dan Jepang, sama seperti Kanada.

“Kami berkoordinasi sangat dekat dengan Uni Eropa, dengan Meksiko, di dalam daftar pengukuran dan aksi retaliasi,” ujarnya.

Adapun Kanselir Jerman Angela Markel mengungkapkan, Eropa akan mengimplementasikan pembalasan terhadap tarif baja dan aluminium AS sama seperti Kanada. Dia juga menyayangkan keputusan Trump yang mengambil kembali dukungannya untuk komunike KTT G7.

Sebelumnya, Kantor PM Kanada menyampaikan bahwa Trudeau tidak mengatakan apa pun di dalam konferensi pers penutupan KTT G7 selain dari apa yang telah dikatakannya kepada Trump.

Adapun Kanada menjadi semakin rentan untuk perang dagang dengan AS karena sebagian ekspor Kanada ditujukan ke negeri tetangganya itu.

Sejauh ini, pejabat Kanada dan bahkan Trudeau sendiri telah memperlihatkan kepada AS bahwa mereka mendukung Perdagangan Republikan di setiap level. Namun, Kanada tidak menyangka masalah perdagangan tetap menghampiri kendati Trudeau berusaha mempertahankan hubungan dagang dengan perekonomian AS. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi as G7
Editor : Gita Arwana Cakti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top