Indonesia Sumbang 187 Juta Ton Sampah Tiap Tahun

Banyak anggota masyarakat yang belum menyadari lama waktu yang diperlukan untuk mengurai kantong plastik yakni sekitar 12 tahun dan butuh 20 tahun untuk mengurai botol plastik yang sudah tidak terpakai.
Ipak Ayu H Nurcaya | 24 Mei 2018 02:32 WIB
Tumpukan sampah di Teluk Jakarta, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Banyak anggota masyarakat yang belum menyadari lama waktu yang diperlukan untuk mengurai kantong plastik yakni sekitar 12 tahun dan butuh 20 tahun untuk mengurai botol plastik yang sudah tidak terpakai.

Marketing & Promotion Head Advance Mellisa mengatakan lamanya mengurai sampah dan botol plastik berbanding terbalik dengan laju penggunaan plastik di seluruh dunia.

"Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia dan terbesar kedua di lautan. Negara kita memproduksi kurang lebih 187 juta ton sampah plastik per tahun," katanya melalui siaran pers pada Rabu (23/5/2018).

Menurut Mellisa, hal ini berpotensi mencemari lingkungan. Ketika sampah plastik dibuang ke tanah, ia akan berinteraksi dengan air dan menghasilkan zat kimia berbahaya yang menurunkan kualitas air.

Padahal, air merupakan kebutuhan vital bagi kelangsungan makhluk hidup. Hasil riset State University of New York, AS, menyatakan sebagian besar merek air minum dalam kemasan mengandung mikroplastik.

Mikroplastik adalah partikel yang besarnya tidak lebih dari 5 mm yang berasal dari bahan baku plastik. Jika terakumulasi dalam jumlah besar, ia berpotensi mengganggu pertumbuhan dan reproduksi, bahkan memperbesar risiko kanker.

Oleh karena itu, mulailah gaya hidup sehat dengan melakukan hal-hal kecil, salah satunya membawa botol air minum dari rumah.

"Selain praktis dan hemat, Anda mengurangi pencemaran lingkungan oleh sampah plastik sekali pakai. Daripada beli air minum isi ulang, Anda bisa mempertimbangkan penggunaan filter air minum sendiri seperti Advance Allegro series karena kualitas air minum yang dihasilkan teruji aman dan lebih sehat untuk dikonsumsi," ujarnya.

Tag : gaya hidup
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top