Berhasil Dievakuasi dari Aroanop, Tangis Para Guru Pecah

Berhasil Dievakuasi dari Aroanop, Tangis Para Guru Pecah
Newswire | 19 April 2018 11:42 WIB
Distrik atau kecamatan Tembagapura di Kabupaten Mimika Papu

Bisnis.com, JAKARTA - Tangis para guru pecah setelah helikopter TNI Angkatan Darat yang membawa mereka dari Aroanop di Distrik Tembagapura, Mimika, tiba di Pusat Penerbangan Angkatan Darat di kompleks Bandara Mozes Kilangin, Timika, Kamis.

Para guru pegawai negeri, guru kontrak kabupaten dan guru dari KPG Universitas Cinderawasih yang praktik mengajar itu langsung berpelukan. Di antara mereka ada yang pingsan dan segera dibawa ke dalam mobil untuk di antar ke rumah keluarganya.

Di kompleks bandara Mozes Kilangin, kepala sekolah dan pegawai utusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika menjemput 13 guru yang menjadi korban kejahatan kelompok bersenjata itu.

TNI Angkatan Darat yang tergabung dalam Satuan Tugas Terpadu Penanganan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) berhasil mengevakuasi 13 guru Sekolah Dasar dari kampung Aroanop di Distrik Tembagapura, Mimika, Kamis pukul 09.05 WIT.

Tujuh guru perempuan dan enam guru laki-laki tersebut dievakuasi dengan menggunakan dua unit helikopter milik TNI Angkatan Darat pimpinan Komandan Satgas Terpadu Penanganan KKSB Kolonel Infanteri Frits Pelamonia.

"Ada sebanyak total 18 guru yang terdiri dari sembilan guru SD Negeri Aroanop dan sembilan guru dari SD Negeri Jagamin. Lima guru lain belum dapat kami evakuasi hari ini karena terkendala cuaca," kata Frits.

Kepala Sekolah SD Negeri Aroanop Philipus Lefteuw kepada wartawan mengaku terpukul dengan peristiwa yang dialami oleh para guru di sekolahnya.

Ia mengaku sempat berkomunikasi dengan para gurunya melalui sambungan telepon seluler pada Kamis (12/4) dan berencana menghubungi kepala kampung Aroanop pada Jumat (13/4) mengenai rencana evakuasi guru ke Timika jika situasi keamanan tidak memungkinkan.

Namun pada Jumat (13/4) para guru yang berada di Aroanop menjadi korban kejahatan anggota KKSB yang diduga melarikan diri dari kampung Banti setelah dilakukan operasi TNI.

"Dan hari Jumat pagi tidak ada informasi dan pada malam harinya kepala kampung telepon dan katakan bahwa Aroanob hancur dan saya tanya hancur apanya? Dia bilang ini orang-orang dari luar mereka serang guru-guru di kampung Omponi dan keterangannya ada guru yang (jadi) korban," tutur Philipus.

"Yang saya sangat menyesal, kenapa bisa terjadi padahal kami bertahun-tahun di sana tidak pernah terjadi," ia menambahkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
papua

Sumber : Antara
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top