Kenapa Biaya Bailout Century Mencapai Rp6,7 triliun? Ini Jawabannya

Besarnya biaya bailout Bank Century dikarenakan butuh pengeluaran untuk mencegah keguncangan di sektor keuangan.
MG Noviarizal Fernandez | 16 April 2018 19:12 WIB
Bank Century Ditutup - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Besarnya biaya bailout Bank Century dikarenakan butuh pengeluaran untuk mencegah keguncangan di sektor keuangan.

Dina Nurul Fitria, akademisi dari Universitas Al Azhar Indonesia mengatakan angka Rp6,7 triliunsebagian digunakan untuk membiayai biaya perbankan akibat rumor yang bisa membahayakan sektor keuangan jika meluncur ke pasar saham dan menimbulkan keguncangan.

“Dana sebesar itu juga digunakan untuk membiayai dana-dana yang seharusnya bisa menjadi dana pihak ketiga. Namun justru keluar karena adanya pinjaman-pinjaman yang tidak dapat dikembalikan. Cost tinggi ini yang picu kenapa dana besar Rp6,7 triliun bisa keluar,” ujarnya dalam diskusi mengenai skandal Bank Century yang digelar Soekarno Hatta Institute dan Sabang Merauke Circle, Senin (16/4/2018).

Dia melanjutkan, pada 2008 Indonesia merupakan negara berkarakter small open economy yang bergantung pada tingkat suku bunga di luar negeri sebagai rujukan sehingga rentan terhadap intervensi, salah satunya dari lembaga manajemen Morgan Stanley yang memiliki aset Century. Lembaga ini, paparnya, tidak mau melakukan upaya untuk menyelamatkan Century sehingga pemerintah kemudian turun tangan.

“Di sinilah unsur politik masuk. Karena dalam hal kriteria, bank gagal itu tidak jelas seperti apa karena tidak disebutkan secara tegas dalam UU,” tuturnya.

Agar peristiwa semacam ini tidak tejradi di kenudian hari sehingga makin memberatkan APBN maka harus ada penjelasan resmi mengenai istilah sistemik, bank gagal dan semacamnya dalam UU Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPKS).

Selain itu, agar Indonesia tidak terjerembab dalam situasi krisis, di mana tantangan di masa mendatang adalah teknologi finansial, Indonesia harus memperkuat konsumsi domestik dengan UMKM sebagai penyangga. Hal ini juga berarti menghidupkan transaksi keuangan fisik sehingga ada aset yang bisa diakumulasi yang kemudian digerakkan menjadi modal agunan.

“Kalau masuk dalam krisis fintech lebih susah dan mahal biayanya. Dulu Century ada asetnya yang bisa dijual aset, bisa ada uang masuk ke APBN. Kakau fintech apa yang mau dijual apakah sistem tekbologi informasi. Tidak ada. Langkah berikutnya, katanya, dengan cara memperbanyak tabungan dan mendorong sektor perbankan untuk membiaya sektor riil,” ungkapnya.

Tag : kasus century
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top