Proteksionisme AS, China Tetap Membuka Diri

China tidak akan melakukan aksi proteksionisme kepada negara yang membuka diri kepada Negeri Panda tersebut. Hal itu merespons dari tindakan Amerika Serikat(AS) yang melakukan kebijakan proteksionisme.
Surya Rianto | 31 Maret 2018 10:12 WIB
Pekerja merakit kendaraan di pabrik Changan Ford, perusahaan patungan antara Changan Automobile dan Ford Motor Company, di Harbin, provinsi Heilongjiang, China 22 Februari 2017. Foto diambil 22 Februari 2017. - REUTERS

Kabar24.com, JAKARTA - China tidak akan melakukan aksi proteksionisme kepada negara yang membuka diri kepada Negeri Panda tersebut. Hal itu merespons dari tindakan Amerika Serikat(AS) yang melakukan kebijakan proteksionisme.

Penasihat China Wang Yi mengatakan reformasi negara dengan kebijakan terbuka tidak akan diubah hanya karena faktor eksternal. Reformasi dan keterbukaan China itu sejalan dengan kepentingan rakyat China.

"Selain itu, keterbukaan China juga akan menguntungkan negara lain. Kami [China] akan menyediakan iklim investasi yang lebih baik lagi bagi perusahaan asing," ujarnya seperti dikutip Reuters pada Sabtu (31/3/2018).

Wang juga menyebut pihaknya akan terbuka kepada negara lain, tetapi sifatnya harus dua arah. Jadi, China membuka diri ke negara lain dan berharap negara itu juga terbuka kepada China.

Namun, Wang enggan menyebu negara yang enggan terbuka kepada China tersebut.

Wang menilai gesekan dan perselisihan perdagangan internasional adala normal. Namun, intinya dalam perselisihan itu harus ada solusi logis melalui konsultasi yang setara sesuai dengan hukum dan aturan.

"Proteksionisme dengan menutup pintu China itu akan mendapatkan konsukeunsi buruk bagi mereka yang melakukannya," ujarnya.

Di sisi lain, China sudah berulang kali mengumbar janji untuk membuka ekonominya lebih luas lagi. Namun, sampai saat ini masih banyak perusahaan asing yang terus mengeluhkan perlakuan tidak adil dari Negeri Panda tersebut.

Di luar itu, China telah memperingatkan Amerika Serikat terkait praktik proteksionismenya di seluruh dunia.

Kebijakan Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif impor hingga senilai US$60 miliar untuk produk China pekan lalu telah membuat negara itu marah. Pemerintah China berjanji akan membalas kebijakan itu dengan mengenakan tarif impor sekitar US$3 miliar.

Impor terbesar China dari AS adalah pesawat terbang dan suku cadangnya, kedelai hingga produk otomotif dengan total tarif sebesar US$40 miliar sebagaimana tercatat pada tahun lalu.

Data kepabeanan China menunjukkan bahwa AS tercatat sebagai pengimpor produk semikonduktor dengan nilai US$2,6 miliar atau satu persen dari nilai total impor produk itu secara keseluruhan. Korea Selatan, Taiwan dan Jepang merupakan negara pengimpor terbesar atas produk tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top