Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

SKANDAL FACEBOOK : Memo Boz Bocor, Begini Respons Zuckerberg

Kasus kebocoran data Facebook terus bergulir. Adapun, persoalan berlanjut setelah memo dari Andrew Bosworth, Wakil Presiden Facebook, muncul ke publik,. Memo itu berisi tentang 'mengejar jumlah pengguna Facebook adalah segalanya', tetapi Mark Zuckerberg menampik hal tersebut.
Surya Rianto
Surya Rianto - Bisnis.com 31 Maret 2018  |  10:00 WIB
Demonstran demo di seberang Parlemen Inggris saat demo di London, Inggris, 29 Maret 2018. - Reuters
Demonstran demo di seberang Parlemen Inggris saat demo di London, Inggris, 29 Maret 2018. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Kasus kebocoran data Facebook terus bergulir. Adapun, persoalan berlanjut setelah memo dari Andrew Bosworth, Wakil Presiden Facebook, muncul ke publik,. Memo itu berisi tentang 'mengejar jumlah pengguna Facebook adalah segalanya', tetapi Mark Zuckerberg menampik hal tersebut.

Seperti dikutip Reuters pada Sabtu (31/3/2018), Bosworth yang akrab dipanggil Boz itu menulis memo pada Juli 2016 yang berisi, "Praktik bisnis yang bisa memicu pertanyaan tidak akan menjadi sebuah masalah bila hasilnya tetap menghubungkan setiap orang."

Memo itu merujuk kepada praktik dan strategi Facebook untuk meningkatkan jumlah pengguna dan semua praktik impor kontak. Semua hal itu bukan menjadi sebuah masalah selama strategi itu bisa membuat orang bisa mencari dan bertemu dengan teman-temannya.

"Mungkin, mengekspos biaya hidup seseorang itu bisa menjadi pengganggu, dan mungkin seseorang bisa tewas dalam serangan teroris yang terkoordinasi karena alat kami, tetapi kita [masyarakat dunia] masih saling terhubung," tulisnya dalam memo tersebut.

Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, merespons, Bosworth adalah pemimpin yang berbakat, tetapi kerap mengatakan berbagai hal yang provokatif.

"Seluruh pihak Facebook, termasuk saya, tidak setuju sekali dengan pernyataan tersebut. Kami tidak pernah membenarkan sesuatu cara yang masih dipertanyakan," ujarnya dalam pernyataan resmi.

Bosworth pun memberikan pernyataan, kalau dirinya tidak setuju dengan memo yang dibuatnya itu.

"Memo itu dilakukan untuk memunculkan perdebatan pada topik-topik sulit. Hal itu dilakukan sebagai proses efektif dalam melakukan pertimbangan dari ide positif sampai ide yang buruk," ujarnya.

Saat ini Facebook tengah menghadapi pertanyaan tentang penanganan informasi pribadi dan strategi perusahaan media sosial yang telah digunakan oleh 2,1 miliar pengguna.

Apalagi, setelah muncul skandal Facebook yang cukup gempar terkait kebocoran data media sosial yang didirikan Mark Zuckenberg tersebut. Pasalnya, 50 juta data pengguna Facebook bocor ke konsultan politik Cambridge Analytica, hal itu membuat Zuckerberg bersaksi pada sidang anggota Parlemen Amerika Serikat (AS) pada April 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

facebook
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top