Menkes: Indonesia Laksana Supermarket Penyakit

Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek meminta semua program kesehatan lebih bergerak ke hulu yakni pada upaya pencegahan masalah kesehatan. Pasalnya, terdapat sangat banyak masalah kesehatan jika hanya fokus pada pengobatan
Thomas Mola | 23 Maret 2018 20:40 WIB
Menteri Kesehatan Nila Moeloek. - www.kemkes.go.id

Bisnis.com, JAKARTA -- Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek meminta semua program kesehatan lebih bergerak ke hulu yakni pada upaya pencegahan masalah kesehatan. Pasalnya, terdapat sangat banyak masalah kesehatan jika hanya fokus pada pengobatan.

"Utamakan pencegahan. Berapa banyak anggaran pemerintah yang dikeluarkan bila hanya berfokus [hanya] pada pengobatan, dan kita temukan banyak sekali permasalahan [kesehatan] yang ditemukan," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (23/03/2018).

Nila menegaskan perlu perubahan paradigma jajaran kesehatan baik di pusat ataupun daerah untuk melihat permasalah secara holistik.

Dia menegaskan tantangan pembangunan kesehatan saat ini sedemikian besar dikarenakan masih banyak penyakit menular yang masih ditemukan, di samping kasus-kasus penyakit tidak menular (PTM) yang juga semakin bermunculan.

"Indonesia laksana supermarket penyakit. Begitu banyaknya penyakit yang harus kita eliminasi maupun eradikasi," imbuhnya.

Nila menyebutkan beberapa penyakit menular yang masih ditemukan di Indonesia mulai dari cacingan, campak, difteri, polio, Tuberkulosis, Malaria, HIV-AIDS, Flu Burung, Leptospirosis, Pes, bahkan Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia tenggara yang masih memiliki kasus Schistosomiasis.

Dia juga menyoroti beberapa penyakit neglected tropical diseases (NTDs), yang seringkali diabaikan padahal masih ada di sekitar kita, yaitu kaki gajah (Filariasis), Kusta dan Frambusia.

Selain itu, Nila juga mengingatkan tentang ancaman keberadaan penyakit yang merupakan Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), seperti MERS-CoV, SARS, yellow fever, Ebola, dan lain-lain.

"Karena itu, penguatan upaya pencegahan dan pengawasan di pintu masuk negara, yang didukung dengan surveilans yang kuat, mutlak diperlukan," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, penyakit

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top