China Anugerahkan Gelar Profesor Emeritus Keuangan untuk Jusman Syafii Djamal

Jusman dianugerahi gelar profesor emeritus keuangan, usai memberikan pidato tentang pentingnya masa depan Indonesia dan China untuk memperhatikan secara serius kebijakan pembangunan sektor maritim melalui insiatif yang disebutnya sebagai Jalur Sutera Abad 21.
Saeno | 22 Maret 2018 17:05 WIB
Komisaris Utama Garuda Indonesia Jusman Syafii Djamal saat memberikan pidato ilmiah di hadapan civitas akademika Guangdong University of Finance di Guangzhou, Selasa (20/3/2018) usai menerima gelar Profesor Emeritus Keuangan dari kampus tersebut. - Istimewa.jpg

Kabar24.com, GUANGZHOU - Komisaris Utama Garuda Indonesia Jusman Syafii Djamal mendapat anugerah penghargaan akademik tertinggi dari dunia pendidikan China.

Jusman dianugerahi gelar profesor emeritus keuangan, usai memberikan pidato tentang pentingnya masa depan Indonesia dan China untuk memperhatikan secara serius kebijakan pembangunan sektor maritim melalui insiatif yang disebutnya sebagai Jalur Sutera Abad 21.

Penganugerahan gelar berlangsung di aula Guangdong University of Finance, Guangzhou, Selasa (20/3), langsung disampaikan oleh Rektor Prof. Yong Heming.

Menurut keterangan tertulis yang diterima Bisnis.com, Kamis (22/3/2018), penganugerahan gelar disaksikan Direktur Kerjasama Internasional Prof. Liu Peifu, pimpinan universitas lainnya, serta sekitar seratus mahasiswa kampus ternama di bidang keuangan tersebut.

Komisaris Utama Garuda Indonesia Jusman Syafii Djamal (kiri) berfoto bersama
Rektor Guangdong University of Finance Prof. Yong Heming (kanan) saat menerima sertifikat
gelar Profesor Emeritus Keuangan dari universitas ternama  di China
khusus bidang finansial tersebut di Guangzhou, Selasa (20/3).

Dalam sambutannya, Rektor Yon Heming mengatakan, pemberian gelar ini merupakan penghormatan kepada Jusman atas pemikirannya dalam membantu memperkenalkan konsep stabilisasi situasi krisis keuangan Indonesia dengan memakai pendekatan stabilisasi aerodinamika pesawat terbang.

“Sumbangan pemikirannya penting dalam mempelajari dinamika keuangan internasional dan lebih dari itu adalah terbangunnya relasi yang kuat bagi kedua negara, terutama di bidang pendidikan keuangan,” kata Yon Heming yang memimpin kampus dengan 1.200 staf pengajar dan 23.000 mahasiwa dalam dan luar negeri itu.

Saat krisis keuangan melanda Indonesia tahun 1997 - 1998, pemerintah memperkenalkan Teori Zig-Zag sebagai salah satu upaya untuk menstabilkan mata uang rupiah yang merosot hebat.

Jusman yang saat itu menjabat Direktur Sistem Senjata dan Sistem Antariksa PT IPTN diminta Presiden BJ Habibie untuk ikut mencari solusi dari persoalan moneter tersebut.

Dengan latar belakangnya sebagai insinyur penerbangan, Jusman menyarankan pendekatan model matematika matrik koefisien pengaruh aeroelastic terhadap struktur pesawat akibat turbulensi hingga menggunakan pendekatan instability dan maneuverability pada pesawat tempur F-16. Pendekatan itu disampikan mengingat pesawat tempur memang dirancang untuk kondisi tidak stabil.

Sebelumnya mantan menteri perhubungan itu juga pernah menerima gelar profesor kehormatan dari Universitas Sains dan Teknologi Zhejiang. Gelar tersebut diberikan atas sumbangsih Jusman membangun kerja sama riset dan teknologi kedua negara.

Jalan Sutera Abad 21

Dalam pidato ilmiahnya yang berjudul “A Silk Road in the 21th Century: New Paradigm to Build Stronger Relationship Between The People of Indonesia and China”, Jusman mengemukakan bahwa kedua negara dapat memainkan peran lebih besar di kawasan dan global. Caranya adalah memberdayakan kembali sektor maritim dengan perspektif baru dan lebih luas guna menjawab tantangan gobal yang kian kompleks.

Jusman Syafii Djamal saat memberikan pidato ilmiah di hadapan civitas akademika Guangdong University of Finance
di Guangzhou, Selasa (20/3/2018) usai menerima gelar Profesor Emeritus Keuangan dari kampus tersebut./Istimewa

“Baik Indonesia dan China harus memiliki keberanian dan kesanggupan untuk melindungi investasi, industri dan infrastrukturnya dari berbagai ancaman eksternal. Untuk bisa menjadi negara yang kuat di bidang ekonomi dan teknologi, tentu saja harus melihat sektor maritim sebagai kekuatan pendorong pertumbuhan yang efektif,” kata Jusman.

Kombinasi antara ketiga aspek kekuatan, yaitu ekonomi, maritim dan teknologi tanpa diragukan akan menjadi kekuatan besar. Indonesia dan China harus menjadikan sektor maritimnya sebagai peta jalan atau road map yang kuat bagi hubungan internasional di masa depan.

Jusman mencontohkan bagaimana kemajuan China atas kebijakan One Belt One Road yang dijalankannya di lautan. Dengan pertumbuhan ekonomi maritim yang cepat dan optimasi industri maritimnya, akan menjadikan kawasan pantai sebagai fokus dari pertumbuhan ekonomi.

Hal tersebut, ujarnya, dapat memunculkan peningkatan ketahanan eksternal dan mempercepat pertumbuhan perusahaan-perusahan, perpindahan personel dan juga keuangan di seluruh dunia.

Hal ini tidak saja merefleksikan kemampuan China yang besar terhadap penggunaan sumber daya kelautan untuk pengembangan transportasi dan energi, melainkan juga bagi kepentingan keamanan nasionalnya di berbagai level, seperti energi, industri, admnistrasi sosial dan pelayanan publik.

“Dalam sejarahnya China memiliki jalur sutera yang menghubungkan Tiongkok dengan berbagai negara lainnya sehingga mampu membangun kebesaran negara di masa itu. Dalam terminology baru saat ini Jalur Sutera dapat disebut sebagai One Belt and One Road dengan pendekatan hubungan internasional dan ekonomi serta kelautan yang serba baru,” kata Jusman.

Inisiatif  One Belt and One Road juga memasukan di dalamnya ide mengenai maritime silk Road. Sehingga pengertian Belt and Road bukanlah pembentukan mekanisme baru, tetapi ide dan inisiatif mengenai pembangunan yang hubungan bilateral dan multilateral antara China dengan negara-negara lainnya yang relevan.

Sejarah Maritim Indonesia

Dalam paparan yang dihadiri sekitar seratus mahasiswa itu, Jusman menyebutkan sejarah Indonesia yang juga besar dalam hal kekuatan laut, mulai dari jaman kerajaan maritim hingga petualangan para pelaut Indonesia yang mencapai Afrika Selatan.

Hal itu diperkuat lagi dengan pengakuan internasional atas hukum laut Indonesia yang dikenal sebagai Deklerasi Juanda tahun 1957 yang menjadikan wilayah laut Indonesia sebagai satu kesatuan perairan nasional. Jadi laut bukan lagi sebagai pemisah tetapi sebagai pemersatu.

“Sebagai negara kepulauan Deklarasi Juanda merupakan kekuatan besar bagi Indonesia dalam mempengaruhi tatanan kehidupan internasional. Selain menambah wilayah hukum nasional, juga menjadi kekuatan untuk kembali membangun kejayaan di laut, mengingat multiplyer effect yang dihasilkannya amat luar biasa bagi masa depan Indonesia,” kata Jusman lagi.

Untuk memastikan kerjasama yang efektif di masa depan antara dua negara, perlu dilakukan dialog yang intens dan setara untuk kepentingan bersama. Baik Presiden Jokowi maupun Presiden Xi Jinping sama-sama menekankan hubungan kerja sama yang setara. Tanpa kesetaraan seluruh kerja sama internasional tidak akan terlaksana dengan baik.

Jusman Syafii Djamal saat memberikan pidato ilmiah di hadapan civitas akademika Guangdong University of Finance
di Guangzhou, Selasa (20/3/2018) usai menerima gelar Profesor Emeritus Keuangan dari kampus tersebut./Istimewa

Inisatif One Belt and One Road serta Poros Maritim bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kerjasama yang didasarkan atas hubungan persahabatan antara China dan Indonesia.

Hal itu tidak saja meningkatkan kesejahteraan kawasan tetapi juga akan meningkatkan taraf hidup masyarakat, stabilitas dan keamanan kawasan dan memberikan sumbangsih terhadap perdamaian dunia.

“Secara historis baik Indonesia dan China telah membangun persahabatannya di lautan. Dengan adanya kebijakan Poros Maritim dari Presiden Jokowi dan One Belt One Road dari Presiden China Xi Jinping maka kedua negara masuk dalam perspektif baru yang perlu ditindaklajuti dengan saksama,” kata Jusman.

Tag : indonesia, china, Jalur Sutera
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top