13 Terduga Pengedar Tewas Dalam Operasi Anti Narkoba di Filipina

Kepolisian Filipina membunuh 13 terduga pengedar narkoba dan menahan lebih dari 100 orang dalam sebuah operasi anti narkoba pada Rabu (21/3/2018).
Annisa Margrit | 22 Maret 2018 14:05 WIB
Presiden Filipina Rodrigo Duterte - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Kepolisian Filipina membunuh 13 terduga pengedar narkoba dan menahan lebih dari 100 orang dalam sebuah operasi anti narkoba pada Rabu (21/3/2018).

Dilansir dari Reuters, Kamis (22/3), lebih dari 4.000 warga Filipina tewas oleh polisi dalam perang melawan narkoba selama 20 bulan terakhir yang dicanangkan oleh Presiden Rodrigo Duterte. Selain itu, ribuan orang lainnya meninggal dibunuh oleh sejumlah kelompok bersenjata.

Sebagian besar pembunuhan itu terjadi di kawasan Metro Manila dan dua provinsi yang berdekatan dengan ibu kota, yakni Bulacan dan Cavite.

Kepala Polisi Bulacan Romeo Caramat mengatakan pihaknya melancarkan sekitar 60 operasi di 9 kota.

"Rangkaian operasi ini merupakan bagian dari kampanye melawan narkoba dan kriminalitas lainnya di provinsi ini," paparnya.

Caramat mengungkapkan 13 terduga pengedar terbunuh oleh polisi dalam kontak senjata. Dia mengklaim kelompok pengedar tersebut menembak lebih dulu ketika merasa terjebak dan polisi menggunakan senjatanya karena berusaha mempertahankan diri.

Sebanyak 19 senjata api dan sekitar 250 paket yang diduga berisi narkoba disita dari operasi tersebut.

Perang melawan narkoba ini menuai kontroversi di dalam negeri dan di dunia internasional. Bulan lalu, International Criminal Court (ICC) melakukan pemeriksaan awal karena memandang Duterte dan 11 pejabat pemerintah Filipina lainnya melakukan kejahatan kemanusiaan. Duterte lantas menarik Filipina dari keanggotan ICC. 

Sumber : Reuters

Tag : filipina
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top