Industri Kreatif di Bali butuh Dukungan E-Commerce & Riset

Jalur distribusi dagang-el dan pengembangan riset dapat menjadi kunci utama bagi pengembangan sektor ekonomi kreatif agar dapat menjadi alternatif baru sumber pertumbuhan perekonomian Bali.
Feri Kristianto, Ni Putu Eka Wiratmini | 21 Maret 2018 18:20 WIB
Salah satu contoh produk Industri Kecil dan Menengah (IKM) - Bisnis.com/Feri Kristianto

Kabar24.com, DENPASAR—Jalur distribusi dagang-el dan pengembangan riset dapat menjadi kunci utama bagi pengembangan sektor ekonomi kreatif agar dapat menjadi alternatif baru sumber pertumbuhan perekonomian Bali.

Dua hal penting itu dinilai bisa mengatasi tantangan yang kini dihadapi oleh industri kreatif, yakni berupa derasnya serbuan produk-produk China ke Indonesia khususnya Pulau Dewata. Penegasan ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ekonomi Kreatif Penggerak Industri Pariwisata Bali yang diadakan Bank Mandiri Regional XI Bali Nusra bersama Kantor Perwakilan Bisnis Indonesia Bali di Denpasar.

Hadir dalam diskusi tersebut Chief Economist Bank Mandiri Anton Hermanto Gunawan, Kepala Perwakilan BI Bali Causa Iman Karana, asosiasi UMKM, pengusaha jasa boga, asosiasi clothing, Apindo, konsultan industri kreatif dan pengamat ekonomi Universitas Udayana. Menurut Vice President Bank Mandiri Regional Bali dan Nusa Tenggara Hendra Wahyudi, masukan dari pelaku usaha kreatif tersebut diharapkan dapat menjadi bahan bagi Bank Mandiri untuk membantu pelaku industri kreatif khususnya di Pulau Dewata.

“Kami ingin menangkap apa yang menjadi kunci permasalahan dan sekaligus bisa memberikan solusi untuk pengembangan ekonomi kreatif di Bali. Potensinya sangat besar dan sudah sewajarnya dikembangkan,” tutur Vice President Bank Mandiri Regional XI Bali dan Nusa Tenggara Hendra Wahyudi, pada Rabu (21/3/2018).

Ketua Induk UMKM Bali Anak Agung Ngurah Mahendra mengatakan produk-produk industri kreatif dari China mengalir deras ke Bali dan Lombok. Dia memaparkan dalam sehari, perusahaan kargo miliknya menangani hingga 10 ton produk ke Bali sedangkan wilayah NTB dan NTT hingga 70 ton yang 80% diantaranya merupakan produk dari China.

Di lain sisi, Bali yang digempur produk China tersebut hingga saat ini seperti belum siap menghadapi tantangn dari China. Hingga saat ini belum ada solusi yang tepat untuk menghadapi permasalahan pelaku industri kreatif. Agung Mahendra pun mengatakan, Bali perlu memiliki lembaga riset yang tangguh. Dari lembaga riset itu nantinya permasalahan yang dihadapi industri kreatif yang ada di Bali dapat teratasi. Bahkan diyakini dapat bersaing dengan China.

“Kalau begini terus kita selesai kecuali kita bersama-sama menyatukan pikiran dengan civitas akadmik dengan diback dana yang cukup besar,” katanya.

Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) Bali Ari Prima mengatakan selama ini pelaku industri kreatif di Bali memang telah susah payah bertahan dengan kondisi ekonomi Bali yang pasang surut. Selama ini pengusaha terpaksa menyelesaiakan masalaah yang dihadapi seorang diri tanpa melibatkan pihak yang lebih mumpuni, yakni lembaga penelitian dan pendidikan.

“Bali ini turis destination, seharunya Bali menjadi tuan rumah untuk Indonesia, dan kita harus mulai open mind mengenai e-commerce. Pengusaha Bali saat ini merasa perlu diwadahi juga dengan ecommerce untuk menghadapi tantangan produk dari luar negeri yang masuk ke Pulau ini,” jelasnya.

Pengamat ekonomi dari Universitas Udayana Sayu Sutrisna Dewi justru melihat permasalahan yang dialami pelaku industri kreatif di Bali adalah rendahnya pemahaman terhadap selera pasar. Pelaku industri kreatif dinilai hanya membuat produk yang disukai tanpa tahu kebutuhan pasar. Sering kali juga, idealism yang begitu tinggi mengalahkan bisnis tersebut berkembang.

“Fanatisme mereka [pelaku industri] sangat tinggi, selama ini melakukan kreasi untuk ngayah [sukarela] nanti bisnisnya diambil orang lain,” katanya.

Kepala Perwakilan BI Bali Causa Iman Karana mengatakan kontribusi ekonomi kreatif Bali baru senilai US$0,25 milair atau hanya 1,32% dari total pangsa pasar industri kreatif nasional. Pada 2015, ekspor ekonomi kreatif dari Bali mengalami peningkatan dari US$18,2 miliar menjadi US$19,4 miliar dengan dominasi produk fashion (56%), kriya (37%), kuliner (6%) dan lainnya (1%). Adapun negara tujuannya adalah Amerika Serikat (31,72%), Jepang (6,74%), Taiwan (4,99%).

Prestasi itu mencatatkan Bali sebagai pengekspor produk fesyen peringkat 7 nasional dengan kontribusi sebesar nilai 0,86%. Dia menyakini industri kreatif merupakan salah satu lapangan usahaa yang berpotensi dikembangkan sebagai sektor pertumbuhan baru ekonomi Bali. Mengacu peristiwa 2017 ketika bandara Ngurah Rai ditutup karena erupsi Gunung Agung, ekonomi Bali sangat rentan karena bergantung dengan satu sektor yakni pariwisata.

“Industri kreatif di Bali harus light manufacturing, karena mengangkat visi Tri Hita Karana yakni menjaga keseimbangan antara Tuhan, alam, manusia. Peluang masih sangat besar tapi pasar dominan hanya 3 saja, padahal kita punya Timur Tengah, Eropa dan Bali sebenarnya sangat mudah go internasional,” paparnya.

Head of Industry and Regional Research Departement Office of Chief Economist Bank Mandiri Dendi Ramdani menekankan bahwa industri kreatif sebenarnya memiliki kasta paling tinggi dalam aktivitas perekonomian. Menurutnya, industri kreatif di daerah ini memiliki potensi sangat besar karena terlihat dari proporsinya yang mengalami pertumbuhan lumayan tinggi yakni di atas 5% dengan kontribusi paling besar adalah sektor kuliner.

Diakui olehnya bahwa pengembanga industri kreatif menghadapi berbagai tantangan utama yang harus diadapi oleh setiap daerah. Tantangan itu seperti permasalahan SDM, pasokan bahan baku, daya saing, pembiayaan, akses pasar, masalah infrastruktur, teknologi hingga iklim usaha.

Tag : bali, industri kreatif
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top