Putra Mahkota Arab Saudi: Laki-laki dan Perempuan Punya Kedudukan Setara

Putra Mahkota Arab Saudi ingin mengembalikan negaranya ke jalur Islam yang moderat, dengan menghapus paham radikal dan memberikan keleluasaan lebih kepada perempuan.
Annisa Margrit | 20 Maret 2018 13:52 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman - Reuters/Joshua Roberts

Bisnis.com, JAKARTA -- Putra Mahkota Arab Saudi ingin mengembalikan negaranya ke jalur Islam yang moderat, dengan menghapus paham radikal dan memberikan keleluasaan lebih kepada perempuan.

Selama ini, perempuan di Arab Saudi tidak bisa leluasa bepergian, berpakaian, dan bergaul. Kerajaan di Timur Tengah itu melarang perempuan mengemudi dan harus mendapatkan izin atau ditemani oleh wali laki-lakinya ketika bepergian.

Namun, sejak awal tahun ini Pemerintah Arab Saudi mencabut larangan mengemudi dan memberikan sejumlah pelatihan mengemudi. Mulai Juni 2018, perempuan akan diperbolehkan mengemudi sendiri.

 

Perempuan Arab Saudi belajar mengemudi sebuah universitas di Jeddah, Arab Saudi./Reuters

 

Mohammed bin Salman mengatakan hal itu sebenarnya sudah dilakukan Arab Saudi pada era 1960-1970, sebelum Revolusi Iran terjadi pada 1979 dan berlangsungnya pendudukan Masjidil Haram pada tahun yang sama.

Dua peristiwa itu disebut menjadi awal penerapan hukum Islam yang lebih ketat di Arab Saudi. Hal itu membuat perubahan sosial di masyarakat.

"Saat itu, kami hidup normal seperti negara-negara Teluk lainnya. Perempuan mengemudi mobil. Ada banyak bioskop di Arab Saudi. Perempuan bekerja dimanapun. Kami hidup normal seperti masyarakat di negara berkembang lainnya di dunia sampai 1979," paparnya kepada CBS News, seperti dikutip Bisnis, Selasa (20/3/2018).

Pewaris tahta Kerajaan Arab Saudi itu bertekad memberikan kesempatan yang sama kepada para perempuan di negerinya. Tidak hanya bisa mengemudi dan bepergian sendiri, pemerintah juga mengangkat larangan bagi perempuan untuk menghadiri pertandingan olahraga.

 

Perempuan Arab Saudi menonton sebuah pertandingan sepakbola di Jeddah, Arab Saudi./Reuters

 

Sekarang, hanya 22% dari perempuan Arab Saudi yang bekerja dan dia ingin angka ini bertambah. Mohammed bin Salman menekankan laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara. 

"Kita semua manusia dan tidak ada perbedaan apapun," tegasnya.

Putra Raja Salman ini menilai syariah Islam memiliki pandangan yang jelas dalam hal cara berpakaian perempuan yaitu perempuan harus mengenakan pakaian yang sopan, sama seperti laki-laki. Tidak disebutkan bahwa pakaian yang sopan adalah abaya hitam atau kerudung hitam.

"Keputusan [berpakaian] diserahkan sepenuhnya kepada perempuan untuk memutuskan pakaian sopan seperti apa yang ingin digunakannya," tambahnya.

 

Seorang mahasiswi belajar membuat film di sebuah universitas di Jeddah, Arab Saudi./Reuters

 

Mohammed bin Salman, yang diangkat menjadi Putra Mahkota pada Juni 2017, menyatakan ada kelompok ekstremis yang melarang percampuran antara laki-laki dan perempuan. Kelompok ini disebut tidak memahami perbedaan antara percampuran laki-laki dan perempuan dengan percampuran antara laki-laki dan perempuan yang terjadi di tempat kerja.

Situasi ini pun dinilainya bertentangan dengan cara hidup pada masa Nabi Muhammad SAW dan para kalifah.

Salah satu cara yang digunakan Mohammed bin Salman adalah dengan mengurangi kewenangan Mutawa alias polisi agama Arab Saudi. Beberapa kewenangan Mutawa adalah menangkap laki-laki dan perempuan bukan muhrim yang sedang bersama serta menangkap orang-orang yang berbusana tidak sesuai syariah.

Sumber : CBS News

Tag : arab saudi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top