Utang Bengkak, Venezuela Dinyatakan Gagal Bayar oleh S&P

S&P Global Ratings menyatakan Venezuela sebagai negara yang mengalami gagal bayar atau default, disebabkan oleh besarnya lilitan utang ke negara dengan kredit paling berisiko di dunia.
Yustinus Andri DP | 14 November 2017 15:05 WIB
Aksi massa menentang Presiden Venezuela Nicolas Maduro di Caracas, Venezuela (19/4 - 2017). / Reuters

Bisnis.com,JAKARTA – S&P Global Ratings menyatakan Venezuela sebagai negara yang mengalami gagal bayar atau default, disebabkan oleh besarnya lilitan utang ke negara dengan kredit paling berisiko di dunia.

S&P menyebutkan, salah satu negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia itu gagal membayar kupon dan bunga senilai US$200 juta untuk obligasi global yang jatuh tempo pada 2019 dan 2024. Tenggat pembayarannya telah memasuki masa tenggang 30 hari dan akan berakhir pekan depan.

Akibatnya, lembaga pemeringkat internasional tersebut memilih menurunkan peringkat penerbitan obligasi tersebut menjadi D dari CC. Selain itu, S&P juga  memotong peringkat kredit sovereign dalam bentuk valuta asing jangka panjang Venezuela menjadi default selektif atau SD, dari peringkat sebelumnya yakni CC.

“Berdasarkan data CreditWatch kami, Venezuela masuk dalam kategori negatif. Kondisi itu mencerminkan pandangan kami, bahwa ada kemungkinan negara tersebut dapat mengalami gagal bayar setidaknya satu kali lagi dalam tiga bulan ke depan,” tulis S&P dalam laporannya, Selasa (14/11/2017).

Adapun, kejadian penundaan pembayaran dan menipisnya uang tunai di Venezuela ini merupakan yang pertama kali terjadi, sejak negara ini mengandalkan obligasi sebagai penyangga perekonomian nasional. Sebelumnya, perusahaan minyak negara Petroleos de Venezuela SA  juga telah dinyatakan gagal bayar oleh Fitch Ratings dan Moody's Investors Service.

Venezuela sendiri telah berjuang mengatasi persoalan ekonominya tersebut selama beberapa bulan terakhir. Namun, upaya itu sulit dilakukan lantaran diberlakukanya embargo ekonomi oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Baik Washington maupun Brussels menilai, embargo ekonomi akan memberikan efek jera bagi pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Seperti diketahui, Maduro dinilai menyalahgunakan kekuasaannya untuk melakukan tindak kekerasan  dan korupsi.

Pemerintah Uni Eropa bahkan mengaku menemukan bukti-bukti sahih yang menyatakan bahwa Maduro menggunakan dana negara untuk membeli peralatan militer, untuk memberlakukan tekanan kepada kubu oposisinya.

Tag : ekonomi venezuela
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top