Cegah Radikalisme, Menristekdikti Minta Perguruan Tinggi Terapkan Strategi Baru

Komitmen pemerintah dan kalangan pendidikan tinggi dalam melawan radikalisme terus dilakukan.\n\nMenristekdikti Mohamad Nasir mengatakan, bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi berbagai upaya menggoyahkan keutuhan dan kekokohan NKRI, menggoncang kebhinekaan bangsa, seperti praktek kekerasan yang mengatasnamakan agama, fundamentalisme, radikalisme, hingga terorisme yang akhir-akhir ini semakin marak di tanah air.
Dika Irawan | 27 September 2017 17:14 WIB
Menristekdikti Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Komitmen pemerintah dan kalangan pendidikan tinggi dalam melawan radikalisme terus dilakukan.

Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan, bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi berbagai upaya menggoyahkan keutuhan dan kekokohan NKRI, menggoncang kebhinekaan bangsa, seperti praktek kekerasan yang mengatasnamakan agama, fundamentalisme, radikalisme, hingga terorisme yang akhir-akhir ini semakin marak di tanah air.

Oleh karena itu, Perguruan tinggi sebagai kawah candradimuka yang melahirkan sumber daya manusia unggul harus mampu menjadi benteng terhadap tumbuh dan berkembangnya ideologi terorisme dan radikalisme.

“Di kampus, saya harapkan muncul berbagai konsep akademik untuk melawan radikalisme yang dihubungkan dengan pengembangan SDM secara sosial, ekonomi, dan budaya. Dengan cara ini kita dapat secara sistematis melawan berkembangnya pemikiran radikal dan mencegah terorisme,” ujarnya saat menghadiri perhelatan bertajuk Deklarasi Anti Radikalisme Perguruan Tinggi se-Besuki Raya di Gedung Rektorat Universitas Jember, Rabu (27/09/2017) dalam keterangan tertulis.

Nasir mengatakan saat ini potensi menyusupnya ideologi terorisme dan radikalisme di perguruan tinggi meningkat. Disinyalir mahasiswa bersama unsur civitas akademika lainnya di perguruan tinggi menjadi sasaran upaya pelemahan NKRI melalui berbagai cara. Untuk itu, Nasir berharap agar pimpinan perguruan tinggi dapat meningkatkan pengawasan dan melakukan tindakan tegas terhadap berbagai aktivitas yang dapat merongrong kekokohan Pancasila dan keutuhan NKRI.

“Tegas, tetapi tetap santun dan tidak mematikan kreativitas mereka,” katanya.

Menurut Nasir, upaya pencegahan radikalisme di kampus, tentu tidaklah cukup hanya dengan deklarasi. Dia mengharapkan dilakukan kajian dan penerapan strategi baru secara sistematis untuk mencegah perkembangan radikalisme yang bisa menjadi ancaman dalam bentuk terorisme.

“Sudah selayaknya, kita sebagai masyarakat akademis berpendidikan tinggi, harus terus menanamkan dalam diri akan pentingnya cinta terhadap tanah air (NKRI), cinta kepada sesama manusia, dapat mengapresiasi perbedaan serta mencapai kehidupan masyarakat yang damai dan sejahtera,” himbau Nasir di depan BEM dan Organisasi Mahasiswa PTN/PTS se-Besuki Raya.

Terakhir Nasir mengingatkan jika ada dosen maupun mahasiswa yang terlibat radikalisme atau tergabung dalam organisasi yang berlawanan dengan idelogi Pancasila seperti HTI akan ditindak tegas dan dilakukan pembinaan. “HTI sudah dibubarkan dan dosen harus memilih apakah masih bekerja atau tidak. Jika masih bergabung di HTI akan diberhentikan,” tutur Nasir.

Tag : perguruan tinggi
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top