Status Gunung Agung Siaga, Wisatawan Tetap Boleh ke Bali

Status Gunung Agung secara resmi dinaikkan menjadi level Siaga dari sebelumnya level Waspada terhitung mulai pukul 21.00 Wita.
Feri Kristianto | 19 September 2017 02:24 WIB
Polisi dan warga memantau aktivitas Gunung Agung di pos pemantauan Desa Rendang, Karangasem, Bali, pada Jumat (15/9/2017). - Antara/Nyoman Budhiana

Kabar24.com, DENPASAR - Status Gunung Agung secara resmi dinaikkan menjadi level Siaga dari sebelumnya level Waspada‎ terhitung mulai pukul 21.00 Wita. Meski demikian, BNPN menyhatakan wisatawan tetap diperbolehkan mengunjungi Bali.

Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM merekomendasikan masyarakat di sekitar gunung dan pengunjung tidak beraktivitas di dalam radius 6 km dari kawah puncah Gunung Agung atau pada elevasi di atas 950 mdpl.

Selain itu, ditambah perluasan sektoral ke arah utara, tenggara, dan selatan barat daya sejauh 7,5 km. ‎"Zona ini harus kosong dari aktivitas masyarakat," ungkap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran tertulisnya pada Senin malam (18/9/2017).

Masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan, tidak terpancing isu-isu tentang erupsi Gunung Agung yang tidak jelas sumbernya.

PVMBG Badan Geologi terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberi informasi tentang kegiatan Gunung Agung.

BNPB dan BPBD terus melakukan langkah-langkah antisipasi. BPBD Provinsi Bali bersama Bupati Karangasem, TNI, Polri, Kepala OPD, Camat dan Kepala Desa se-Kabuaten Karangasem telah melakukan rapat koordinasi membahas tentang kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat menghadapi letusan Gunung Agung pada Minggu (17/9/2017).

Sosialisasi terus dilakukan di mana warga diimbau untuk menyiapkan tas yang berisi pakaian, makanan, barang berharga yang akan digunakan untuk mengungsi jika sewaktu-waktu Gunung Agung meletus.

BNPB segera mendampingi BPBD untuk menyusun rencana kontingensi menghadapi letusan Gunung Agung. Rencana ini disusun melibatkan berbagai pihak dengan mengacu pada tingkat ancaman dari letusan Gunung Agung beserta skenario terburuk dalam penanganannya.

Pasca kenaikan status ke Level II (Waspada) pada 14/9/2017, pengamatan visual Gunung Agung dari pos pengamatan Rendang menunjukkan adanya hembusan solfatara dari dasar kawah setinggi 50 meter dari bibir kawah dengan intensitas putih tipis dengan tekanan lemah.

Tingkat kegempaannya secara umum masih menunjukkan kenaikan yang signifikan. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental, aktivitas Gunung Agung teramati meningkat daripada kondisi Level II (Waspada) dengan terekamnya kegempaan-kegempaan vulkanik yang mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik saat ini dalam keadaan tidak stabil sehingga probabilitas untuk terjadi letusan meningkat.

Perlu diwaspadai letusan dari Gunung Agung mengingat sudah cukup lama gunung ini tidak meletus. Badan Geologi mencatat bahwa Gunung Agung yang meletus pada 12/3/1963 berskala VEI 5, dengan tinggi kolom erupsi setinggi 8-10 km di atas puncak G. Agung dan disertai oleh aliran piroklastik yang menghancurkan beberapa desa di sekitar.

VEI merupakan skala pengukuran relatif letusan gunung. Gunung Agung dengan VEI 5 dideskripsikan mengalami erupsi sangat besar. Saat itu letusan menewaskan sekitar 1.100 jiwa, yang sebagian terkena aliran lahar.

Karakter dari letusan Gunung Agung dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan di Gunung Agung yang terletak di dalam kawah Gunung Agung.

Dalam sejarah aktivitasnya, erupsi Gunung Agung mengindikasikan potensi ancaman bahaya berupa jatuhan piroklastik, aliran piroklastik, dan aliran lava.

Daerah yang berpotensi terancam jatuhan piroklastik dapat tersebar di sekeliling G. Agung tergantung pada arah angin. Dengan kondisi aktivitas seperti saat ini maka jika terjadi letusan, potensi bahayanya diperkirakan utamanya berada di area tubuh gunung tersebut yang berada di lereng utara, tenggara, dan selatan.

Ancaman bahaya secara langsung berada di daerah utara terutama di aliran Sungai Tukad Tulamben, Tukad Daya, Tukad Celagi, yang berhulu di area bukaan kawah, Sungai Tukad Bumbung di tenggara, Pati, Tukad Panglan, dan Tukad Jabah di selatan berpotensi terhadap bahaya aliran piroklastik dan lahar.

Sutopo mengimbau masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaannya. “Masyarakat silakan beraktivitas normal. Wisatawan silakan tetap ke Bali. Taati semua rekomendasi dan saran dari pemerintah dan pemda.”

Tag : bali, gunung agung
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top