Indonesia Antisipasi Kaburnya Militan Filipina ke Indonesia

Seiring dengan semakin terkendalinya situasi bergejolak di kota Marawi yang terletak di wilayah bagian Selatan Filioina, kepolisian Indonesia bersiaga menghadapi kemungkinan kaburnya anggita militan ke Indonesia yang menjadi salah satu negara tetangga terdekat Filipina.
Juli Etha Ramaida Manalu | 31 Mei 2017 01:19 WIB
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memberikan keterangan pers terkait perkembangan WNI terdampak operasi militer Marawi di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa (30/5). - Antara/Sigid Kurniawan

Kabar24.com, JAKARTA - Seiring dengan semakin terkendalinya situasi bergejolak di kota Marawi yang terletak di wilayah bagian Selatan Filioina, kepolisian Indonesia bersiaga menghadapi kemungkinan kaburnya anggita militan ke Indonesia yang menjadi salah satu negara tetangga terdekat Filipina.

Untuk itu, kepolisian Indonesia menyiagakan sejumlah pasukan dari kesatuan Brimob dan Polisi air, serta dibantu oleh TNI untuk melakukan penjagaan serta memonitor wilayah-wilayah oerbatasan yang berdekatan seperti di perairan Sulawesi Utara.

"Situasi di Marawi, Filipina semakin hari semakin dapat dikuasai oleh pemerintah Filipina dengan operasi militernya. Tentu, Polri melihat bahwa akan ada dampaknya terhadap wilayah kesatuan Negara Republik Indonesia oleh karenanya Polri, dalam hal ini beberapa anggota Brimob bersama anggota direktorat kepolisian air, melakukan upaya-upaya menjaga dan memonitor wilayah-wilayah perbatasan dengan Filipina," kata Kabagpenum Divhumas Polri Kombes Pol Martinus Sitompul, Selasa (30/5/2017).

Menurutnya pengetatan penjagaan di wilayah perbatasan ini sudah dilakukan selama beberapa waktu terakhir seiting dengan semakin terpukulnya kekuatan gerakan separatis Filipina. Kekuatan penjagaan ini juga akan semakin ditingkatkan jika kelak pemerintah Filipina berhasil merebut total wilayah Marawi.

"Kalau pergeseran pasukan ini, dari Polda sudah dilakukan dari mulai dua tiga hari yang lalu. Itu sudah dimulai dan akan terus bertambah bilamana daerah itu sudah dikuasai kembali oleh pemerintah Filipina dan ditemukan ada beberapa yang melarikan diri. Tentu yang melarikan diri inilah yang perlu kita tangkap juga di wilayah kita apabila masuk ke wilayah kita. ini poinnya,"

Di samping kerjasama dengan TNI, Martinus juga meminta agar pemerintah provinsi atau kabupaten di daerah yang berdekatan dengan Filipina untuk melakukan kesiapan seperti membantu memberikan pengarahan bagi para kepala desa, camat, guna membantu pihak kepolisian dalam mengamankan wilayah Indonesia agar tidak menjadi tempat pelarian oara anggota kelompok tersebut.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk turut berpartisioasi dalam menjaga keamanan seperti giat memberikan informasi kepada pihak yang berwajib jika ditemukan adanya pihak atau oknum yang kemungkinan merupakan pelarian dari Filipina.

"Tentu dalam hal ini, Polri tidak bisa bekerja sendiri. Polri tentu berharap kepada masyarakat untuk bisa memberikan informasi; apakah informasi terkait kedatangan atau bahkan apabila ada informasi mereka sudah ada di wilayah Indonesia. Ini yang kita upayakan, kita menjalin kontak dengan masyarakat," tambahnya.

Sementara itu, di hari yang sama seperti diberitakan Reuters, militer Filipina mendesak agar para militan Islamis yang menduduki daerah selatan negara tersebut agar secepatnya menyerahkan diri. Pertempuran ini sendiri sudah memasuki hari ke delapan. Petugas keamanan Filipina mengerahkan kendaraan lapis baja sertaserangan roket yang dilepaskan daro helikopter untuk mengalahkan pasukan radikal bersenjata tersebut.

Pemerintah Filipina menyatakan oihaknya hampir bisa merebut kembali kota Marawi dari kelompok Maute yang memiliki keterkaitan dengan IS. Kelompok ini berusaha merebut kita tersebut setelah upaya pasukan keamanan untuk menangkap Isnilon Hapilon, yang disebut sebagai Emir atau pemimpin ISIS di Asia Tenggara.

"Kami menyerukan agar teroris yang masih twrsisa untuk menyerahkan diri selagi masih ada kesempatan," kata jurubicara militer Filipina Brigjen Restituto Padilla seperti dikutip dari Reuters.
Saat helikopter mengitari kota yang terletak di tepi danau itu, asap terlihat membubung dari sejumlah gedung sementara pasukan menyisir sejumlah lokasi yang diduga menjadi temoat para pemberontak ditengah ledakan dan hujan tembakan dari senjata otomatis. Mereka memeriksa setiap rumah dan jalanan.
Lebih dari seratus orang dilaporkan tewas dalam perang ini yang menurut pihak militer adalah para militan sementara penduduk kota kebanyakan telah mengungsi menyelamatkan diri.
Seorang pastur ditahan oleh militan dan puluhan penduduk lain meminta kepada Presiden Rodrigo Duterte untuk mempertimbangkan keadaan mereka dan menghentikan operasi militer tersebut.
Seorang sumber intelijen Filipina mengatakan sekitar 40 orang dari dari 400-500 pasukan militan sempat menguasai tempat itu datang dari luar negeri termasuk Timur Tengah, Indonesia, Malaysia, sedikitnya satu orang Pakistan, satu orang Saudi, satu orang Chechen, satu orang Yaman, satu orang India, satu orang Maroko dan satu orang yang berpaspor Turki.

Tag : filipina
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top