Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Sebab Calon Berelektabilitas Tinggi Kalah Pilkada

Jangan dulu bersorak dan bersukacita dalam riang pesta demokrasi bernama pilkada? Ternyata, elektabilitas kandidat tidak serta merta menjamin menang pilkada. Ada tiga penyebabnya.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 24 Maret 2017  |  09:55 WIB
Anggota PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) mencatatl rekap suara Pilkada Banten saat rapat pleno penghitungan suara Pilgub Banten secara manual di Serang, Jumat (17/2). - Antara/Asep Fathulrahman
Anggota PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) mencatatl rekap suara Pilkada Banten saat rapat pleno penghitungan suara Pilgub Banten secara manual di Serang, Jumat (17/2). - Antara/Asep Fathulrahman

Kabar24.com, KUPANG - Jangan dulu bersorak dan bersukacita dalam riang pesta demokrasi bernama pilkada? Ternyata, elektabilitas kandidat tidak serta merta menjamin menang pilkada. Ada tiga penyebabnya.

"Strategi pemenangan dalam pemilihan kepala daerah, tidak cukup mengandalkan data elektabilitas dan popularitas kandidat melalui survei ataua apapun bentuknya, karena politik pemilu seperti pilkada langsung telah banyak membuktikan hal itu," kata pengamat politik Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang Dr Marianus Kleden, di Kupang, Jumat (24/3/2017).

Dikatakan, tidak ada jaminan bagi calon kepala daerah yang mengandalkan elektabilitas dan popularitas untuk memenangi pemilu dalam tingkatan apapun.

Selama ini alat ukur survei menjadi dasar pertimbangan bagi calon, terutama calon kepala daerah bahkan calon presiden sekalipun.

Alat ukur survei mengabaikan beberapa aspek penting yang menjadi variabel pendukung keberhasilan dalam pesta demokrasi tertentu. Ini alasan pertama.

Misalnya, kata dosen Fisipol bidang Filsafat Politik Unwira Kupang itu, adalah lingkungan sosial yang termanifestasi dalam rekam jejak yang terkadang dilupakan seseorang ketika dalam kesehariannya melakukan interaksi verbal maupun nonverbal.

Sinyal sosial, katanya, sering menemukan bahwa data mengenai komunikasi sosial terhadap kandidat yang akan maju dan bertarung dalam panggung politik dengan nama dan label apapun juga perlu dipertimbangkan.

"Ketika kandidat sekadar tahu mereka lebih populer dan tingkat keterpilihannya lebih tinggi, informasi ini belum bisa langsung dimanfaatkan untuk menyusun strategi pemenangan," katanya.

Komunikasi

Alumnus Filsafat Ledalero Flores itu menyebut, dalam survei yang dilakukan terhadap seorang hanya dilakukan dalam bentuk sampling dengan margin error yang terukur.

Artinya survei sebagai alat ukur terhadap elektabilitas dan tingkat popularitas seseorang memang harus diakui sebagai karaya profesionalitas dan terlembaga, tetapi secara person kandidat belum tentu populer benar dalam konteks politik pencitraan.

"Umumnya seorang kandidat lebih diketahui publik melalui poster, baliho dan alat iklan kampanye lainnya," katanya.

Namun, dampak paling besar justru berasal dari opini masyarakat yang dilakukan oleh keluarga, tetangga sekitar tempat tinggal atau teman kantor. Ini alasan kedua.

Penggalangan opini ini bahkan bisa lebih kuat dampaknya daripada alat peraga. Dengan demikian, diperlukan komunikasi yang baik dari seorang kandidat di lingkungan sosialnya..

"Dengan diketahuinya basis data tersebut, kandidat kepala daerah akan lebih mudah menyusun strategi pemenangan tanpa mengeluarkan biaya politik yang besar," katanya.

Misalnya, lanjut Marianus, dialog sosial dan komunikasi langsung kepada masyarakat, dapat dituju pada basis masyarakat yang mengetahui informasi mengenai kandidat tersebut.

Alasan ketiga, basis data membuat sistem pemenangan menjadi tepat sasaran dan efisien.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pilkada Serentak

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top