PEMILU BELANDA: Wilders Kalah, Tapi Bangga. Ini Sebabnya

Politisi anti-Islam dari Negeri Keju Geert Wilders merasa bangga walau dirinya kalah dalam pemilu Belanda.
Dewi Aminatuz Zuhriyah | 16 Maret 2017 16:40 WIB
Geert Wilders - Reuters

Kabar24.com, AMSTERDAM--Politisi anti-Islam dari Negeri Keju Geert Wilders merasa bangga walau dirinya kalah dalam pemilu Belanda.

Wilders yang kalah dari Rutte mengatakan bangga karena partainya mendapat jatah kursi.

“Saya lebih suka menjadi partai terbesar, tapi kita bukan partai yang kalah dalam pemilu, kita mendapat kursi, itu yang bisa dibanggakan,” ujar Wilders.

Berdasarkan data kantor berita ANP, Partai untuk Kebebasan dan Demokrasi (VVD) Rutte memenangkan 33 kursi dari 150 kursi parlemen. Jumlah tersebut merosot jika dibandingkan dengan Pemilu di 2012 saat Partai Rutte memperoleh 41 kursi.

Partai untuk Kebebasan, Partai sayap kanan yang diketuai Geert Wilders memperoleh 20 kursi, disusul Partai Kristen Demokratis (CDA) dan Partai Demokrat 66 masing-masing mendapat 19 kursi.

Pemilu Belandan diikuti 78% pemilih dan merupan  yang tertinggi selama satu dekade ini. Pemilu kali ini juga merupakan batu ujian apakah Belanda ingin mengakhiri dekade liberalisme dan memilih seorang nasionalis, jalur anti-imigran dengan memilih Wilders dan janjinya untuk de-Islamicise Belanda serta keluar dari Uni Eropa.

Namun hasilnya cukup melegakan untuk pihak utama di seluruh Eropa terutama di Prancis dan Jerman. Kubu nasionalis sayap kanan berharap membuat dampak besar dalam pemilu tahun ini yang berpotensi sebagai ancaman eksistensial terhadap Uni Eropa.

Mark Rutte kembali terpilih sebagai Perdana Menteri Belanda mengalahkan Geert Wilders dalam Pemilu Rabu (15/3) waktu setempat.

Rutte yang memenangkan pemilu tersebut menawarkan bantuan besar untuk pemerintah lain di seluruh Eropa dalam menghadapi gelombang nasionalisme seperti yang terjadi di Amerika Serikat di bawah pimpinan Donald Trump.

Sejumlah pengamat menyebutkan kemenangan Rutte dipengaruhi banyak faktor.

“Rutte mendapat keuntungan dengan bergerak ke kanan, dan juga mendapat dari Wilders yang nampak sangat radikal selama satu tahun terakhir dan menjadi tak terlihat dalam kampanye,” ujar Cas Muddle, associate profesor di University of Georgia, mengacu pada keputusan Wilders untuk mengorbankan debat pemilu sampai minggu terakhir kampanye.

“Di atas semua itu, Presiden Turki Erdogan memberinya hadiah yang indah,” imbuhnya.

Pasalnya, Rutte mendapat dorongan dari sengketa diplomatik dengan Turki yang memungkinkannya mengambil kebijakan keras di negara dengan mayoritas muslim selama kampanye dengan isu imigrasi dan integrasi menjadi kunci utama.

Kemenangan Rutte turut dimeriahkan sejumlah petinggi negara di Uni Eropa. Seperti yang dilakukan Staf Kepala Kanselir Jerman Angela Merkel, Peter Altmaier. Dalam twitternya, Peter menuliskan kegembiraannya atas kemenangan Rutte.

“Belanda, oh Belanda Anda juara.. selamat atas hasil besar ini,” tulis Peter dalam akun twitternya.

Selain Peter, Menteri Luar Negeri Prancis Jean Marc Ayrault juga menulis hal serupa di media sosial berlambang burung biru itu. “Selamat kepada Belanda yang membendung kelompok sayap kanan,” tulisnya.

Jajak pendapat terkait pemilu itu juga berdampak pada kenaikan Euro ke level tertinggi terhadap Dolar AS sejak 7 Februari kemarin.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
belanda, Geert Wilders

Sumber : Reuters
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top