Catatan Perjalanan Tantowi Yahya (1): Pasca Kemenangan Trump, Pendukung Hillary Sulit Move On

Saya melihat sikap pendukung Hillary yang sulit untuk move on, keterbelahan ini saya prediksi akan berlangsung lama.n
Tantowi Yahya
Tantowi Yahya - Bisnis.com 24 November 2016  |  00:01 WIB
Catatan Perjalanan Tantowi Yahya (1): Pasca Kemenangan Trump, Pendukung Hillary Sulit Move On
Tantowi Yahya. - Istimewa

Saat ini saya sedang berada di Amerika Serikat,  saat di mana negara tersebut baru saja menyelenggarakan Pemilihan Presiden. Momen ini saya anggap tepat dalam rangka merasakan suasana kebatinan di tengah rakyat AS yang sedang terbelah.

Saya berkunjung ke Nashville, Tennessee dan Washington DC, dua kota yang mewakili geografis politik di Amerika yakni Red dan Blue States. Ternyata auranya memang berbeda. Nashville ceria (red), Washington muram (blue).

Di Nashville saya berinteraksi dengan masyarakat biasa, pekerja kelas menengah dan kelompok profesional. Terlihat aura optimisme diantara kelompok-kelompok masyarakat tersebut dalam menyongsong masa depan yg mereka yakini akan lebih cerah ketika AS dipimpin oleh Donald Trump.

Sementara di Washington di mana saya bertemu dan berdiskusi dengan 8 lobbyist group, think tank dan konsultan politik ternama yang terjadi adalah sebaliknya.

Suasana kekecewaan masih terasa. Mereka terperangkap dalam pesimisme kolektif. Rakyat Amerika yang selama ini memang terbelah menjadi benar-benar terbelah dua, suasana yang dulu kita alami pasca Pilpres 2014.

Saya yang tadinya prihatin dengan sikap bangsa kita yang saya anggap belum dewasa dalam menerima dan menyikapi hasil Pilpres, sekarang berbalik lega. Kejadian seperti itu ternyata terjadi juga di Amerika, negara yang selama ini kita anggap sebagai kampiun demokrasi.

Dan melihat sikap pendukung Hillary yang sulit untuk move on, keterbelahan ini saya prediksi akan berlangsung lama.

Pelantikan Trump-Pence sebagai Presiden dan Wkl Presiden AS tgl 20 Januari 2017 akan dijaga ketat menganstipasi kemungkinan gangguan yang akan muncul.  Rencananya 2 juta pendukung Clinton akan berdemo di depan Gedung Putih pas pelantikan tersebut.

Namun karena tidak adanya izin, demo akbar tersebut  akan dilangsungkan sehari setelahnya. Kita patut bangga karena ternyata kita lebih dewasa dalam berdemokrasi.

Demo-demo seperti yang terjadi di AS ini tidak terjadi ketika ketika Jokowi-JK diumumkan sebagai pemenang. Tidak pula terjadi ketika keduanya dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI di Gedung MPR.

*Tantowi Yahya adalah Anggota Komisi I DPR, kelahiran  Indralaya, Sumatra Selatan, 29 Oktober 1960, dari  Partai Golkar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tantowi yahya, Donald Trump

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top