Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

HABIB ALI bin MUHAMMAD ALJUFRI: PB Alkhairaat, Toleransi Sudah Sejak Dahulu

Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Alkhairaat Habib Ali bin Muhammad Aljufri mengatakan bahwa perguruan Alkhairaat telah menerapkan makna toleransi antar umat beragama sejak dahulu.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 22 November 2016  |  13:36 WIB
HABIB ALI bin MUHAMMAD ALJUFRI:  PB Alkhairaat, Toleransi Sudah Sejak Dahulu
Kepala Kanwil Hambali (keempat kiri) bergandengan tangan bersama perwakilan lintas agama di Kantor Kemenag Sumatra Selatan, Palembang, Senin (1/8/2016). Dialog diadakan Kemenag bersama Forum Kerukunan Umat Beragama bertujuan mencari solusi kerukunan umat di Sumsel setelah terjadi rusuh di Tanjung Balai, Sumut. - Antara/Feny Selly
Bagikan

Bisnis.com, PALU -  Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Alkhairaat Habib Ali bin Muhammad Aljufri mengatakan bahwa perguruan Alkhairaat telah menerapkan makna toleransi antar umat beragama sejak dahulu.

Habib Ali yang juga ketua Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tengah itu mencontohkan, sejak masa pendiri Alkhairaat, Habib Idrus Bin Salim Aljufri atau dikenal dengan guru tua, sudah ada sekolah-sekolah Alkhairaat yang menggunakan guru non muslim sebagai tenaga pengajar dan murid non muslim bersekolah di madrasah Alkhairaat.

"Ketika mata pelajaran umum, semua siswa baik muslim dan non muslim duduk bersama, tetapi pelajaran keagamaan, anak-anak non muslim belajar dengan guru mereka sesuai dengan agamanya," ungkap Habib Ali di Palu, Selasa (22/11/2016).

Masih di zaman Habib Idrus, kata dia, ada salah seorang guru beragama kristen mengajar pelajaran matematika, namun beliau sudah meninggal, sebagian keluarganya sudah menjadi muslim.

Lanjut dia, Alkhairaat memiliki salah satu madrasah di wilayah Kulawi, Kabupaten Sigi, waktu itu ada salah satu pendeta yang menjadi pengurus sekolah dan membantu untuk mencari dana dalam pembangunan madrasah.

Sekolah itu, kata dia, dipergunakan untuk anak-anak non muslim untuk belajar, ketika waktu pendidikan agama Islam, mereka keluar dan diajar oleh guru pendidikan agama mereka ditempat lain. Ada lagi sekolah Alkhairaat yang jumlah muridnya sebanding antara muslim dan non muslim.

Bagi Habib Ali, pelajaran agama harus diambil ilmunya dari seorang guru karena itu berhubungan dengan pemahaman, sementara ilmu umum dapat didapatkan dimana saja dengan kecanggihan terknologi saat ini seperti menggunakan internet.

"Karena dalam Islam sudah jelas sekali, Lakum Dinukum Waliyadin, untukmu agamamu dan untukku agamaku," ujarnya.

Menurut Habib Ali, disaat semua organisasi berbicara soal toleransi, Yayasan Perguruan Alkhairaat sejah dulu telah menerapkan yang namanya toleransi.

"Alhamdulillah, disaat organisasi lain masih berbicara soal toleransi, tapi Alkhairaat sudah melaksanakannya dalam bentuk praktek," katanya.

Kata dia, yang menjadi pertanyaannya saat ini, kenapa ada daerah yang tidak menerapkan makna toleransi, karena itu berhubungan dengan kepentingan, baik individu, kelompok maupun golongan.

"Jangan membeda-bedakan yang satu dengan yang lainnya hanya karena kepentingan pribadi," tekannya.

Tetapi untuk Sulteng, kata Habib Ali, semua berjalan dengan baik, itu dibuktikan dengan Kapolda Sulteng dari masa ke masa, tidak hanya didominasi oleh orang muslim saja. Tetapi ada juga yang non muslim yang diterima baik oleh masyarakat Sulteng, walaupun diketahui bahwa daerah ini mayoritas beragama Islam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

toleransi kerukunan beragama

Sumber : ANTARA

Editor : Martin Sihombing
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top