Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PILPRES AMERIKA: Trump Mau Terima Hasil bila Menang

Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, mengatakan akan menerima hasil Pemilu Amerika Serikat pada 8 November jika menang.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 21 Oktober 2016  |  18:19 WIB
Calon presiden dari partai Republik Donald Trump berjabat tangan dengan calon presiden dari partai Demokrat Hillary Clinton di permulaan debat kepresidenan pertama mereka di Hofstra University di Hempstead, New York, Amerika Serikat, Senin (26/9/2016). - Reuters
Calon presiden dari partai Republik Donald Trump berjabat tangan dengan calon presiden dari partai Demokrat Hillary Clinton di permulaan debat kepresidenan pertama mereka di Hofstra University di Hempstead, New York, Amerika Serikat, Senin (26/9/2016). - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, mengatakan akan menerima hasil Pemilu Amerika Serikat pada 8 November jika menang.

Pernyataan itu meningkatkan kekhawatiran anggota Partai Republik tentang sikap Trump, yang akan membuat partainya lebih sulit mempertahankan kendali di Kongres Amerika Serikat.

Penolakan Trump mengikat diri dalam menerima hasil pemilihan presiden adalah tanggapan menonjol dari debat ketiga dan terakhir calon presiden Amerika Serikat antara Trump dengan pesaingnya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, Rabu malam.

Pernyataan itu merangkum semua tuduhan Trump selama ini mengenai pemilihan presiden AS, yang curang terhadap dia, dan menjadi titik nyala terbaru dalam pertandingan sengit politik, tiga pekan sebelum pemilih pergi ke tempat pemungutan suara.

Clinton menyebut tanggapan Trump itu "mengerikan".

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, yang berasal dari Partai Demokrat, mengecam Trump, Kamis (20/10/2016) , di Miami Gardens, Florida, dalam kampanye untuk mendukung Hillary dan anggota DPR Amerika Serikat, Patrick Murphy, yang mencoba untuk menggeser senator dari Partai Republik, Marco Rubio, seorang pendukung Trump.

"Itu berbahaya. Karena ketika anda mencoba untuk menabur benih keraguan dalam pikiran orang tentang keabsahan pemilu, itu merongrong demokrasi kita. Kemudian anda juga melakukan pekerjaan musuh kita," kata Obama.

Modifikasi

Trump memodifikasi pernyataannya pada kampanye di Ohio, Kamis (20/10/2016), tetapi tetap tidak mundur.

"Saya ingin berjanji dan bersumpah kepada semua pemilih dan pendukung saya dan semua orang Amerika Serikat, bahwa saya benar-benar akan menerima hasil pemilihan presiden yang besar dan bersejarah ini... jika saya menang," kata dia.

Dia akan menerima "hasil Pemilu yang jelas", tetapi tetap memegang haknya untuk mengajukan gugatan hukum dalam kasus hasil Pemilu yang diragukan.

Dengan Trump yang tertinggal dalam jajak pendapat, fokus menjelang pemungutan suara pada 8 November bergeser kepada pertanyaan apakah Partai Republik dapat menjaga mayoritas tipis mereka di Senat Amerika Serikat, atau bahkan menjaga posisi mereka yang lebih besar di DPR.

Senator dari Partai Republik, John McCain (Arizona), yang kalah dari Obama dalam Pemilu 2008, mengatakan menerima hasil pemilu itu merupakan "gaya orang Amerika".

"Saya tidak menyukai hasil pemilihan pada 2008. Tetapi saya memiliki kewajiban untuk mengakui dan saya melakukannya tanpa keengganan," kata McCain.

"Sebuah konsesi itu bukan hanya latihan dalam keanggunan. Itu adalah tindakan menghormati kehendak rakyat Amerika, rasa hormat itu adalah tanggung jawab pertama setiap pemimpin Amerika," lanjut dia.

McCain menarik dukungannya untuk Trump.

Ketika ditanya, Rabu malam, tentang komitmennya untuk transisi kekuasaan secara damai, Trump menjawab, "Yang saya katakan adalah bahwa saya akan memberitahu Anda pada saatnya. Saya akan membuat Anda menunggu. Ya?"

Peralihan

Pernyataan Trump, yang paling provokatif dalam perdebatan yang berulang kali menuju ke dendam, menjadi berita utama di seluruh negeri Paman Sam dan menimbulkan pertanyaan tentang komitmennya untuk transisi kekuasaan secara damai, yang adalah landasan demokrasi Amerika.

Sebelumnya, Clinton menuduh Trump menjadi boneka Presiden Rusia Vladimir Putin. Trump menyebut Hillary "wanita rendah" dan seorang penjahat, yang harus dikurung. Kedua calon presiden Amerika Serikat itu tidak melakukan kebiasaan saling berjabat tangan saat perdebatan berakhir.

Pada Kamis malam kedua kandidat tampil bersama di sebuah makan malam amal resmi di New York dan berjabat tangan di sana setelah memberikan pidato yang dimaksudkan untuk menyindir satu sama lain.

"Tepat sebelum menuju podium, Hillary sengaja menabrak saya, dan dia berkata dengan sangat sopan, 'maafkan saya'," kata Trump bercanda.

"Dan saya dengan sangat sopan menjawab, biarkan saya berbicara dengan Anda tentang hal itu setelah saya masuk ke kantor (Gedung Putih)."

Trump mengatakan, Hillary harus dipenjara karena kecerobohannya dalam menagani surat elektronik semasa menjabat sebagai menteri luar negeri AS.

Hillary berbicara setelah Trump pada acara makan malam itu. "Saya tidak berpikir dia (Trump) akan menerima peralihan kekuasaan dengan cara damai," kata dia.

Namun, pertunjukan lelucon dan saling sindir itu bukan hal umum dilakukan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pilpres amerika

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top