Pasar Buku Digital Masih Kecil

Industri penerbitan mengakui pasar buku digital belum menggeser buku konvensional. Selain itu, belum semua penerbit siap menghadapi digitalisasi.nn
Tisyrin Naufalty Tsani | 17 Mei 2016 21:39 WIB
Ilustrasi buku digital - digitalmediadiet.com

Bisnis.com, JAKARTA — Industri penerbitan mengakui pasar buku digital belum menggeser buku konvensional. Selain itu, belum semua penerbit siap menghadapi digitalisasi.

Menilik data Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), penjualan buku digital atau e-book masih kurang dari 2% di pasar buku lokal. Beberapa toko buku digital yang kini mulai berkiprah di Indonesia, di antaranya Wayang Force dan Scoop.

CEO Agromedia Group Hikmat Kurnia mengatakan meski pangsa pasarnya masih kecil, tetapi penjualan buku digital senantiasa memperlihatkan peningkatan. Agromedia Group telah siap melakukan digitalisasi setidaknya sejak tiga tahun lalu.

“Kami sudah siap. Namun, hal ini tidak terjadi secara merata, tidak semua penerbit siap akan menghadapi digitalisasi,” katanya kepada Bisnis, Selasa (17/5/2016).

Menurutnya, karena pangsa pasarbuku digital masih kecil, maka belum banyak mempengaruhi industri perbukuan konvensional secara umum. Hal tersebut juga bisa menjadi salah satu sebab mengapa banyak penerbit yang belum berminat. Karena itu, baru segelintir penerbit yang siap dengan digitalisasi, dia memperkirakan jumlahnya masih kurang dari 10 penerbit.

Dia mengatakan salah satu tantangan terkait digitalisasi adalah kesiapan infrastruktur internet. Apalagi ke depan, buku digital pun sifatnya akan lebih interaktif misalnya dilengkapi video.

“Bagaimana bisa jalan jika internetnya kurang mendukung? Masyarakat akan kesulitan mengaksesnya,” katanya.

Manager Noura Books Suhindrati Shinta mengatakan beberapa penerbit besar sudah cukup siap dengan digitalisasi, mereka mempunyai staf khusus untuk mengurus digitalisasi.

“Noura Books sendiri juga sudah memiliki staf khusus yang mengurus digitalisasi, 95% buku kami sudah tersedia dalam versi digital,” katanya.

Dia juga mengakui bahwa dari segi pendapatan, penjualan buku digital masih jauh lebih sedikit dibandingkan konvensional, hanya saja kecenderungannya meningkat. Dia mencontohkan, pada awal Noura Books melakukan digitalisasi, satu buku digital hanya terjual 15-an eksemplar per tahun, sedangkan saat ini sudah mencapai 1.000-an eksemplar per tahun.

Jika dibandingkan dengan penjualan buku konvensional, penjualan buku konvensional di Noura Books minimal dapat mencapai 3.000-an eksemplar per tahun.

Dia mengatakan harga buku digital biasanya lebih murah 20-30% dari buku konvensional. Penerbit yang menentukan harganya. Harga yang lebih murah itu wajar karena pembeli tidak membeli kertas.

Penulis Windy Ariestanty mengatakan apabila digitalisasi didukung dengan jaringan internet atau teknologi yang baik, maka bisa menjadi solusi untuk persoalan pemerataan bacaan dan distribusi buku di indonesia.

Dia menambahkan, pihak perbankan juga harus turut memikirkan perihal pasar buku digital, mengingat transaksi online sangat bergantung kepada mereka.

“Saya rasa perbankan juga mulai harus memikirkan hal ini dan mereka pun sudah harus mulai dilibatkan dalam pembangunan sistem dan industrinya,” katanya.

 

Tag : buku
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top